KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan
kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kita sehingga
penyusun berhasil menyelesaikan makalah Geometri Euclide
tepat pada waktunya yang berjudul “Geometri”.
Makalah ini berisikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan geometri
euclide, yakni: sejarah, kekongruenan dan kesebangunan pada segitiga maupun
segiempat.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
selalu penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penyusun sampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari
awal sampai akhir. Semoga dari makalah ini, kita sebagai calon guru mampu
memahami materi geometri euclide ini dan mampu membangkitkan motivasinya dalam
belajar sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang berkualitas.
Pagaralam, 15 Agustus 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Geometri Bidang Euclid
2.1.1 Sejarah Geometri Bidang Euclid
2.1.2 Struktur Geometri Bidang Euclid
2.1.3 Pengganti Postulat Sejajar Euclid
2.1.4 Ekivalensi Postulat Euclid dan Playfair
2.1.5 Peran Postulat Sejajar Euclid
2.1.6 Bukti Proclus tentang
Postulat Sejajar Euclid
2.1.7 Solusi Wallis atas Permasalahan yang ada
2.1.8 Percobaan Saccheri untuk
Memperthankan Postulat Euclid
2.2 Lima Aksonia
2.3 Geometri Non-Euclidean
2.4 Sebangunan dan Kongruen
2.4.1 Pengertian Kesebangunan
2.4.2 Pengertian
Kongruen
2.4.3
Kesebangunan
Segitiga
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Geometri
adalah struktur matematika yang membicarakan unsur dan relasi yang ada antara
unsur tersebut. Titik, garis, bidang, dan ruang merupakan benda abstrak yang menjadi
unsur dasar geometri. Berdasarkan unsur-unsur inilah, didefinisikan
pengertian-pengertian baru atau berdasar pada pengertian-pengertian baru
sebelumnya.
Geometri berasal dari bahasa Yunani yaitu geo yang
artinya bumi dan metroyang artinya mengukur. Geometri adalah cabang
Matematika yang pertama kali diperkenalkan oleh Thales (624-547 SM) yang
berkenaan dengan relasi ruang. Dari pengalaman, atau intuisi, kita mencirikan
ruang dengan kualitas fundamental tertentu, yang disebut aksioma dalam geometri.
Aksioma demikian tidak berlaku terhadap pembuktian, tetapi dapat digunakan
bersama dengan definisi matematika untuk titik, garis lurus, kurva, permukaan
dan ruang untuk menggambarkan kesimpulan logis.
Menurut Novelisa Sondang bahwa “Geometri menjadi
salah satu ilmu Matematika yang diterapkan dalam dunia arsitektur; juga
merupakan salah satu cabang ilmu yang berkaitan dengan bentuk, komposisi, dan
proporsi.” Muhamad Fakhri Aulia menyebutkan bahwa geometri dalam
pengertian dasar adalah sebuah cabang ilmu yang mempelajari pengukuran bumi dan
proyeksinya dalam sebuah bidang dua dimensi.Alders (1961) menyatakan bahwa
”Geometri adalah salah satu cabang Matematika yang mempelajari tentang titik,
garis, bidang dan benda-benda ruang beserta sifat-sifatnya, ukuran-ukurannya,
dan hubungannya antara yang satu dengan yang lain.”
Dalam geometri
didapat juga sifat-sifat pokok, yaitu sifat-sifat pertama yang tidak
berdasarkan sifat-sifat yang mendahuluinya yaitu aksioma dan posulat. Aksioma
adalah suatu pernyataan yang kebenarannya diterima tanpa melalui
pembuktian.berdasarkan sifat pokok tersebut dapat diturunkan sifat-sifat yang
disebut dengan dalil. Dalil tersebut dapat juga dibentuk berdasarkan dalil
sebelumnya. Dalil merupakan sebuah pernyataan yang kebenarannya dapat diterima
melalui serangkaian pembuktian.
Telah
diperlihatkan bahwa bukti geometrik dengan cara menggambarkan kesimpulan
melalui diagram untuk saat ini dianggap tidak memuaskan. Bukti tersebut tidak
memenuhi standar sekarang. Di lain pihak, Euclid, yang merupakan ahli logika
ternama, bergantung sepenuhnya pada pembuktian menggunakan gambar. Bagaimana
perubahan dalam perilaku ini bisa diatasi?
Postulat
sejajar Euclid, yakni berupa satu kalimat penting dalam sejarah kontoversi
intelektual, dapat dinyatakan sebagai berikut :
Jika dua garis dibagi oleh garis transversal sedemikian sehingga jumlah
dua sudut interiornya ( sudut dalam ) pada sisi transversal adalah kurang dari
180o, garis tersebut akan bertemu pada sisi transversal tersebut.
Sejarah pentingnya
postulat sejajar tersebut didasarkan pada peran pentingnya dalam teori Euclid.
Oleh karena itu, pertama dimulai dengan mensketsa teori geometri bidang Euclid.
Agar menjadi bukti, penting dilakukan pemeriksaan terhadap struktur teori ini.
Perlakuan yang dilakukan tidak mengikuti detailnya perkembangan Euclid, tetapi
menekankan pad aide dasarnya dengan menggunakan istilah yang lebih modern dan
juga perlakuan yang cukup sesuai dengan hasil kerjanya yang sekarang, sehingga
banyak dipakai di berbagai buku ajar.
Euclid dengan buku Elemen-nya adalah hasil
karya klasik matematika dari jaman purbakala yang paling terkenal, dan juga
menjadi buku teks matematika tertua yang selalu digunakan dunia. Sedikit yang
bisa diketahui tentang Euclid, kecuali fakta bahwa dia hidup di Alexandria
sekitar tahun 300 SM. Pokok persoalan utama dari karyanya adalah geometri,
perbandingan dan teori bilangan. Telah diperlihatkan bahwa bukti geometrik
dengan cara menggambarkan kesimpulan melalui diagram untuk saat ini dianggap tidak
memuaskan. Bukti tersebut tidak memenuhi standar sekarang. Di lain pihak,
Euclid, yang merupakan Euclid Geometry 2 ahli logika ternama, bergantung
sepenuhnya pada pembuktian menggunakan gambar. Postulat sejajar Euclid, yakni
berupa satu kalimat penting dalam sejarah kontroversi intelektual, dapat
dinyatakan sebagai berikut : Jika dua garis dibagi oleh garis transversal
sedemikian sehingga jumlah dua sudut interiornya (sudut dalam) pada sisi
transversal adalah kurang dari 180o , garis tersebut akan bertemu pada sisi
transversal tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Mengingat akan sifat
makalah ini maka dirumuskan masalah sebagai berikut :
1).
Bagaimana struktur geometri bidang Euclid dan
kaitannya dengan postulat sejajarnya?
2). Apa yang dapat menjadi postulat pengganti
postulat sejajar Euclid dan bagaimana postulat tersebut bisa dihubungkan dengan
postulat sejajar Euclid?
3). Bagaimana peranan
pentingnya postulat sejajar Euclid dalam pembuktian geometri?
4). Bagaimana pembuktian
ahli logika lainnya tentang postulat sejajar Euclid?
1.3 Tujuan
Berdasarkan dari latar
belakang dan rumusan masalah maka penulis dalam makalah ini bermaksud untuk
menunjukkan kebenaran postulat sejajar Euclid dalam pembuktian geometri
berdasarkan garis tranversalnya dan bukti-bukti penting lainnya dalam
mempertahankan postulat Euclid tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Geometri Bidang Euclid
2.1.1 Sejarah Geometri Bidang
Euclid
Euclid adalah seorang matematikawan yang
berasal dari Yunani. Beliau sangat terkenal lewat penemuan-penemuannya di
bidang geometri dan dikumpulkan dalam
karyanya yang berjudul “the element”. Euclid ini adalah salah satu murid dari
akademi Plato di Athena. Euclid lahir sekitar tahun 330 SM dan meninggal
sekitar 260 SM. Tahun tersebut hanya perkiraan karena tidak adanya sumber yang layak dipercaya. Ada sumber yang
menyebutkan bahwa Euclid hidup antara tahun 330 – 275 SM. Tidak ada catatan
tentang tempat dan tanggal kelahiran Euclid secara pasti, serta sedikit yang
diketahui tentang kehidupan pribadinya. Namun pada masa pemerintahan Ptolemy I,
Euclid mengajar matematika di Alexandria, Mesir.
Geometri Euclid merupakan sebuah sistem matematik yang
disumbangkan oleh seorang ahli matematik Yunani bernama Euclid dari Alexandria.
Teks Euclid, Elements merupakan sebuah kajian sistematik yang terawal mengenai
geometri. Ia sudah menjadi salah satu buku-buku yang paling berpengarh di dalam
sejarah, sama banyaknya dengan kaedahnya yang mempunyai isi kandungan
matematik.
Kaedah
cara yang mengandungi andaian satu set aksiom secara intuitif yang sangat
menarik, dan kemudiannya membuktikan banyak usul (teorem-teorem) daripada
aksiom-aksiom berkenaan. Walaupun banyak daripada keputusan-keputusan oleh
Euclid sudah dinyatakan oleh ahli-ahli matematik Yunani sebelumnya, Euclid
merupakan orang yang pertama untuk menunjukkan bagaimana usul-usul ini
diletakkan secara sempurna membentuk satu deduksi dan sistem logik yang
komprehensif.
Buku
Elements ini bermula dengan geometri satah, yang masih lagi diajar di sekolah
menengah sebagai satu sistem aksioman dan contoh-contoh pembuktian formal yang
pertama. Kemudiannya, Elements merangkumi geometri pepejal dalam tiga dimensi,
dan seterusnya geometri Euclid telah dipanjangkan kepada satu bilangan dimensi
yang terhingga. Kebanyakan daripada Elements menyatakan keputusan-keputusan
dalam apa yang kini disebut sebagai teori nombor, yang boleh dibuktikan
menerusi kaedah geometri.
Selama dua ribu tahun, kata adjektif “Euclid” tidak diperlukan kerana pada masa itu tiada geometri lain dapat dibayangkan.
Selama dua ribu tahun, kata adjektif “Euclid” tidak diperlukan kerana pada masa itu tiada geometri lain dapat dibayangkan.
Arti
penting buku The Elements tidaklah terletak pada pernyataan rumus-rumus
pribadi yang dilontarkannya. Hampir semua teori yang terdapat dalam buku itu
sudah pernah ditulis orang sebelumnya, dan juga sudah dapat dibuktikan
kebenarannya. Sumbangan Euclid terletak pada cara pengaturan dari bahan-bahan
dan permasalahan serta formulasinya secara menyeluruh dalam perencanaan
penyusunan buku. Di sini yang paling utama adalah pemilihan dalil-dalil serta
perhitungan-perhitungannya.
Sesudah
itu dengan cermat dan hati-hati dia mengatur dalil sehingga mudah dipahami oleh
orang-orang sesudahnya. Dia pun menyediakan petunjuk cara pemecahan hal-hal
yang belum terpecahkan dan mengembangkan percobaan-percobaan terhadap
permasalahan yang terlewatkan. Perlu dicatat bahwa buku The Elements selain
terutama merupakan pengembangan dari bidang geometri yang ketat, juga di
samping itu mengandung bagian-bagian soal aljabar yang luas berikut teori
penjumlahan.
Sebagai
alat pelatih logika pikiran manusia, buku The Elements jauh lebih berpengaruh
daripada risalah Aristoteles tentang logika. Buku itu merupakan contoh yang
komplit sekitar struktur deduktif dan sekaligus merupakan buah pikir yang
menakjubkan dari semua hasil kreasi otak manusia. Buku Euclid merupakan faktor
penting bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan modern. Ilmu pengetahuan bukanlah
sekedar kumpulan dari pengamatan-pengamatan yang cermat dan bukan pula sekedar
generalisasi yang tajam serta bijak. Hasil besar yang direnggut ilmu
pengetahuan modern berasal dari kombinasi antara kerja penyelidikan empiris dan
percobaan-percobaan di satu pihak, dengan analisa hati-hati dan kesimpulan yang
punya dasar kuat di lain pihak.
Pengaruh
Euclid terhadap Sir Isaac Newton sangat kentara sekali, sejak Newton menulis
buku kesohornya The Principia dalam bentuk kegeometrian, mirip dengan The
Elements. Berbagai ilmuwan mencoba menyamakan diri dengan Euclid dengan jalan
memperlihatkan bagaimana semua kesimpulan mereka secara logis berasal mula dari
asumsi asli. Tak kecuali apa yang diperbuat oleh ahli matematika seperti
Russel, Whitehead dan filosof Spinoza.
Kini,
para ahli matematika sudah memaklumi bahwa geometri Euclid bukan satu-satunya
sistem geometri yang memang jadi pegangan pokok dan teguh serta yang dapat
direncanakan pula, mereka pun maklum bahwa selama 150 tahun terakhir banyak
orang yang merumuskan geometri bukan dengan rumus Euclid. Sebenarnya, sejak
teori relativitas Einstein diterima orang, para ilmuwan menyadari bahwa
geometri Euclid tidaklah selamanya benar dalam penerapan masalah cakrawala yang
sesungguhnya.
Pada
kedekatan sekitar “Lubang hitam” dan bintang neutron misalnya di mana gaya
berat berada dalam derajat tinggi, geometri Euclid tidak memberi gambaran yang
teliti tentang dunia, ataupun tidak menunjukkan penjabaran yang tepat mengenai
ruang angkasa secara keseluruhan. Tetapi, contoh-contoh ini langka, karena
dalam banyak hal pekerjaan Euclid menyediakan kemungkinan perkiraan yang
mendekati kenyataan. Kemajuan ilmu pengetahuan manusia belakangan ini tidak
mengurangi baik hasil upaya intelektual Euclid maupun dari arti penting
kedudukannya dalam sejarah.
Ptolemy
mendirikan universitas yang lebih besar dari akademi Plato dan mengundang
Euclid untuk mengajar di sana. Di tempat baru ini, Euclid merintis pengajaran
matematika dan tinggal di sana sampai akhir hayatnya. Sebagai seorang guru, dia
barangkali salah satu mentor Archimedes. Ada legenda yang menceritakan bahwa
anak Ptolemy bertanya kepada Euclid apabila ada cara mudah belajar geometri
dengan mempelajari semua preposisi. “Tidak ada cara mulus mempelajari
geometri,” adalah jawaban Euclid sambil menyuruh pangeran kembali membaca buku
geometri. Jawaban ini menjadi kutipan (quotation) terkenal dari Euclid.
Selanjutnya jawaban tersebut memberi dasar bahwa matematika adalah ilmu yang
perlu pembuktian.
Euclid
banyak menulis buku, diantaranya yang terkenal dan masih tersimpan, antara
lain:
a.
The Elements, pendekatan sistematik dan aksiomatik terhadap geometri.
b.
The Data,
berhubungan dengan sifat dan implikasi dalam masalah geometris; dan terkait
dengan jilid ke-4 buku The Elements.
c.
On Divisions of Figures, menyangkut pembagian bidang geometris menjadi dua atau
lebih bagian yang sama atau dengan rasio tertentu.
d.
Catoptrics, menyangkut teori matematika cermin, yaitu bentuk gambar pada cermin
cekung.
e.
Phaenomena, sebuah risalah astronomi bola.
f.
Optik
adalah perspektif awal yang masih bertahan Yunani. Yaitu Euclid mengikuti
tradisi Platonis dimana Vision atau pandangan tersebut disebabkan oleh sinar
diskrit yang berasal dari mata. Hal-hal yang dilihat di bawah sudut yang lebih
besar tampak lebih besar, di bawah sudut yang lebih rendah tampak lebih kecil,
sementara yang di bawah sudut yang sama adalah sama.
Kelemahan-kelemahan
dalam rumus Euclid kemudian dibenahi oleh beberapa ahli dan timbul beberapa
versi revisi sistem Aksioma Euclide oleh Playfair dan Hilbert. Hilbert
menemukan bahwa sejumlah asumsi Euclid telah gagal membuat pemecahan yang
eksplisit.
Sebuah
formulasi penuh dari aksioma yang diperlukan untuk pengembangan geometri
Euclidean yang sekarang tersedia. Hal ini jauh lebih rumit, dan jauh lebih
sedikit dimengerti, dibandingkan presentasi Euclid, dan kita harus bertanya
pada diri sendiri apa sebenarnya apa yang dimaksud aksioma titik. Euclid
berasumsi bahwa ia perlu untuk membuktikan teorema geometris. Sedangkan Hilbert
membuat semua asumsi yang benar-benar eksplisit dan menghasilkan bukti yang sah
secara berurutan. Presentasi Euclid dapat dipahami dan memiliki daya tarik
intelekual yang besar sedangakan Hilbert sukar untuk dipahami kecuali untuk
mereka yag sudah tahu tentang geometri. Hilbert menganggap telah melakukan
pekerjaan yang tepat dan Euclid tidak dapat melakukan dengan sempurna. Hilbert
bekerja dari sudut pandang formalis. Di luar logika formal, pendekatan
aksiomatik Euclid lebih baik daripada Hilbert. Geometri Euclidean dibutuhkan
untuk membedakan ciri khas geometri dengan yang lain.
Aksiom-aksiom Euclid nampak seperti sangat
jelas sehinggakan apa-apa teorem lain yang dibuktikan daripadanya dianggap
benar secara mutlak. Hari ini, bagaimanapun, banyak geometri bukan Euclid sudah
diketahui, yang pertamanya telah dijumpai pada awal abad ke-19. Ia juga tidak
boleh diambil mudah bahawa geometri Euclid hanya menggambarkan ruang fizikal.
Satu implikasi daripada teori Einstein mengenai teori kerelatifan umum bahawa
geometri Euclid merupakan satu anggaran yang baik kepada sifat-sifat ruang fizikal
hanyak sekiranya medan graviti tidak terlalu kuat.
Pendekatan
aksioman Geometri Euclid merupakan satu sistem aksioman, yang mana semua teorem
(“penyataan benar”) adalah diambil daripada satu bilangan aksiom-aksiom yang
terhingga. Pada permulaan buku Elements yang pertama, Euclid memberikan lima
postulat (aksiom):
1. Apa-apa dua titik boleh dihubungkan dengan satu garis lurus.
2. Apa-apa tembereng garis lurus boleh dipanjangkan di dalam satu garis lurus.
1. Apa-apa dua titik boleh dihubungkan dengan satu garis lurus.
2. Apa-apa tembereng garis lurus boleh dipanjangkan di dalam satu garis lurus.
3. Satu bulatan boleh dilukis dengan menggunakan satu
garis lurus sebagai jejari
dan
satu lagi titik hujung sebagai pusat.
4.
Semua sudut serenjang adalah kongruen.
5. Postulat selari.
5. Postulat selari.
Jika dua garis bersilangan dengan yang
ketiga dalam satu cara yang jumlah sudut dalaman adalah kurang daripada satu
lagi, maka dua garis ini mesti bersilangan di atas satu sama lain sekiranya
dipanjangkan secukupnya.
Aksiom-aksiom ini menggunakan konsep-konsep berikut: titik, tembereng garis lurus dan garis, sebahagian daripada satu garis, bularan dengan jejari dan pusat, sudut serenjang, kongruen, sudut-sudut dalaman dan serenjang, jumlah. Kata-kata kerja yang berikut muncul: sambung, dipanjangkan, lukis, silang. Bulatan ini digambarkan dengan menggunakan postulat 3 adalah sangat unik. Postulat-postulat 3 dan 5 hanya boleh digunakan untuk geometri satah; dalam tiga dimensi, postulat 3 mentakrifkan suatu bulatan.
Aksiom-aksiom ini menggunakan konsep-konsep berikut: titik, tembereng garis lurus dan garis, sebahagian daripada satu garis, bularan dengan jejari dan pusat, sudut serenjang, kongruen, sudut-sudut dalaman dan serenjang, jumlah. Kata-kata kerja yang berikut muncul: sambung, dipanjangkan, lukis, silang. Bulatan ini digambarkan dengan menggunakan postulat 3 adalah sangat unik. Postulat-postulat 3 dan 5 hanya boleh digunakan untuk geometri satah; dalam tiga dimensi, postulat 3 mentakrifkan suatu bulatan.
Geometri Euclid adalah pembelajaran
geometri yang didasarkan pada definisi, teorema/aksioma (titik, garis dan
bidang) dan asumsi-asumsi dari seorang matematikawan yunani (330 B.C) yakni
Euclid.
Buku Euclid yang berjudul “Element” adalah buku pertama yang membahas tentang geometri secara sistemetis. Banyak penemuan-penemuan Euclid telah didahului oleh matematikawan Yunani, tatapi penemuan itu tidak terstruktur dengan rapi seperti yang dilakukan Euclid. Euclid membuat pola deduktif secara komprehensif untuk membentuk geometri. Pendekatan dari Euclid terdiri dari pembuktian semua teorema dari aksioma-aksiomanya.
Geometri Euclid mempelajari bidang datar.
Buku Euclid yang berjudul “Element” adalah buku pertama yang membahas tentang geometri secara sistemetis. Banyak penemuan-penemuan Euclid telah didahului oleh matematikawan Yunani, tatapi penemuan itu tidak terstruktur dengan rapi seperti yang dilakukan Euclid. Euclid membuat pola deduktif secara komprehensif untuk membentuk geometri. Pendekatan dari Euclid terdiri dari pembuktian semua teorema dari aksioma-aksiomanya.
Geometri Euclid mempelajari bidang datar.
Geometri Euclides sering disebut juga
geometri parabolik, yaitu geometri yang mengikuti satu himpunan proposisi yang
didasarkan pada lima postulat Euclid yang telah didefinisikan dalam bukunya The
Elements. Lebih khusus, geometri Euclid berbeda dari jenis geometri lain dalam
dalil kelima, sering disebut dengaan postulat paralel. Non-Euclidean geometri
menggantikan postulat kelima ini dengan salah satu dari dua alternatif postulat
dan mengarah ke geometri hiperbolik atau geometri eliptik.
Ada dua jenis geometri Euclidean: geometri
bidang, yang merupakan dimensi Euclidean geometri-dua, dan geometri padat, yang
merupakan dimensi Euclidean geometri-tiga.
Lima postulat Euclid dapat dinyatakan
sebagai berikut :
1) Hal ini dimungkinkan untuk menggambar segmen garis lurus bergabung dengan dua titik.
2) Hal ini dimungkinkan untuk selamanya memperpanjang himpunaniap segmen garis lurus secara terus menerus dalam garis lurus.
3) Mengingat himpunaniap segmen garis lurus, adalah mungkin untuk menggambarlingkaran memiliki segmen sebagai jari-jari dan satu titik akhir sebagai pusatnya.
4) Semua sudut kanan sama satu sama lain atau kongruen.
5) Jika dua garis yang ditarik sehingga mereka berpotongan sepertiga sedemikian rupa sehingga jumlah dari sudut interior pada satu sisi kurang dari dua sudut yang tepat, maka mereka dua baris, jika diperpanjang cukup jauh, harus berpotongan satu sama lain pada sisi tertentu.
1) Hal ini dimungkinkan untuk menggambar segmen garis lurus bergabung dengan dua titik.
2) Hal ini dimungkinkan untuk selamanya memperpanjang himpunaniap segmen garis lurus secara terus menerus dalam garis lurus.
3) Mengingat himpunaniap segmen garis lurus, adalah mungkin untuk menggambarlingkaran memiliki segmen sebagai jari-jari dan satu titik akhir sebagai pusatnya.
4) Semua sudut kanan sama satu sama lain atau kongruen.
5) Jika dua garis yang ditarik sehingga mereka berpotongan sepertiga sedemikian rupa sehingga jumlah dari sudut interior pada satu sisi kurang dari dua sudut yang tepat, maka mereka dua baris, jika diperpanjang cukup jauh, harus berpotongan satu sama lain pada sisi tertentu.
Dalil
kelima dikenal sebagai postulat paralel. Paralel ini menyatakan bahwa postulat
diberikan himpunan tiap segmen garis lurus dan titik tidak bahwa segmen garis,
ada satu dan hanya satu garis lurus yang melewati titik itu dan tidak pernah
memotong baris pertama, tidak peduli seberapa jauh segmen garis yang
diperpanjang. Meskipun kelima postulat Euclid tidak dapat dibuktikan sebagai
teorema, selama bertahun-tahun banyak bukti diklaim diterbitkan. Banyak usaha
yang ditujukan untuk merumuskan teorema untuk mendalilkan ini karena diperlukan
untuk membuktikan hasil penting dan itu tidak tampak sebagai intuitif sebagai
dalil-dalil lainnya. Lebih dari dua ribu tahun penelitian dalil kelima
ditemukan untuk menjadi independen dari empat lainnya. Ini adalah postulat
kelima ini yang harus terus untuk geometri untuk dipertimbangkan Euclidean.
Pada
tahun 1826 Nikolay Lobachevsky dan pada tahun 1832 János Bolyai, dikembangkan
secara independennon-Euclidean geometri yang konsisten diri sepenuhnya di mana
postulat kelima tidak menjadi pegangan. Johann Carl Friedrich Gauss pernah
menemukan ini tapi hasilnya tidak dipublikasikan. Euclid berusaha menghindari
menggunakan postulat kelima dan berhasil dalam proposisi pertama 28 The
Elements, tetapi untuk proposisi 29 ia membutuhkannya. Bagian dari geometri
yang dapat diturunkan hanya dengan menggunakan empat pertama postulat Euclid
kemudian dikenal sebagai geometri absolut. Sebagaimana dinyatakan di atas,
dalil kelima dan karenanya paralel dalil menggambarkan geometri Euclidean. Jika
bagian dari postulat paralel diganti dengan “garis tidak ada yang melewati
titik” geometri maka elips atau bulat dijelaskan.Jika bagian dari postulat paralel diganti
dengan “minimal dua baris ada terjadilah bahwa melalui titik bahwa” maka
geometri hiperbolik dijelaskan.
Seperti
dinyatakan di atas, dua jenis geometri Euclidean, geometri bidang dan geometri
padat, yang jelas berbeda. Geometri bidang adalah bagian dari geometri dalam
ruang dua dimensi yang berhubungan dengan gambaran dari bidang, seperti garis,
lingkaran dan poligon. Geometri padat adalah bagian dari geometri dalam ruang
tiga-dimensi yang berhubungan dengan makanan padat, seperti polyhedra, bola,
dan garis dan bidang. Dalam kedua jenis kelima postulat Euclidean geometri
Euclid sesuai, tetapi masing-masing menggambarkan tokoh dalam berbagai jenis
ruang. Ruang Euclidean adalah ruang semua-tuple n bilangan real dan
dilambangkan sebagai R^n. Ruang ini adalah ruang vektor dan memiliki dimensi
topologi (Lebesgue dimensi meliputi) n (lihat topologi). Contravariant dan
jumlah kovarian yang himpunanara dalam ruang Euclidean. R^1 adalah garis yang
nyata, yaitu garis dengan skala tetap yang nomor sesuai dengan poin yang unik
pada baris. Generalisasi garis nyata di-dimensi ruang dua disebut bidang
Euclidean dan dinotasikan R^2.
2.1.2 Struktur Geometri Bidang Euclid
Asumsi
atau postulat yang ada untuk geometri bidang Euclid adalah :
1.
Sesuatu akan sama dengan sesuatu atau sesuatu
yang sama akan sama satu sama lainnya.
2.
Jika kesamaan ditambahkan dengan kesamaan,
maka jumlahnya akan sama.
3.
Jika kesamaan dikurangi dari kesamaan,
selisihnya akan sama.
4.
Keseluruhan akan lebih besar daripada
bagiannya.
5.
Bangun geometrik dapat dipindahkan tanpa
mengubah ukuran atau bentuknya.
6.
Setiap sudut memiliki bisector.
7.
Setiap segmen memiliki titik tengah.
8.
Dua titik hanya berada pada satu satunya
garis.
9.
Sebarang segmen dapat diperluas oleh suatu
segmen yang sama dengan segmen yang diberikan.
10. Lingkaran dapat digambarkan dengan sebarang titik pusat dan radius yang
diketahui.
11. Semua sudut siku – siku sama besar.
Dari postulat – postulat di atas dapat dideduksi sejumlah teorema dasar.
Diantaranya adalah :
1.
Sudut bertolak belakang sama besar.
2.
Sifat kongruensi segitiga ( SAS, ASA, SSS )
3.
Teorema kesamaan sudut dasar segitiga sama kaki dan konversinya
4.
Eksistensi garis yang tegak lurus pada garis pada titik dari garis
tersebut
5.
Eksistensi garis yang tegak lurus pada garis yang melalui titik
eksternal
6.
Pembuktian suatu sudut yang sama dengan sudut dengan titik sudut dan
sisi yang telah diberikansebelumnya.
7.
Pembentukan segitiga yang kongruen dengan segitiga dengan sisi yang sama
pada sisi segitiga yang diketahui.
Sekarang akan dibuktikan teorema sudut eksterior, sebagai cara menuju
perkembangan lebih lanjut.
Teorema 1. Teorema sudut eksterior. Sudut eksterior
segitiga akan lebih besar daripada sudut interior terpencil manapun.
8.
Untuk menunjukkan bahwa m<ACD
> m<B, perluas AC melalui C
hingga H, yang membentuk <BCH. Kemudian tunjukkan bahwa m<BCH > m<B,
dengan
menggunakan
prosedur bagian pertama pembuktian: misalkan M merupakan titik tengah BC,
perluas panjang AM melalui M, dan lain – lain. Untuk melengkapi bukti,
perhatikan bahwa <BCH dan <ACD merupakan sudut bertolak belakang sehingga
sudut tersebut sama besar.
Teorema 2. Jika dua
garis dibagi oleh garis transversalsehingga membentuk pasangan sudut interior
dalam berseberangan, maka garis tersebut sejajar.
Bukti. Ingat kembali
bahwa dua garis dalam bidang yang sama dikatakan sejajar jika garis tersebut
tidak bertemu (berpotongan). Misalkan garis transversal membagi dua garis l, m
pada titik A, B sehingga membentuk pasangan sudut interior dalam berseberangan,
<1 dan <2, yang sama besar, dan misalkan garis l dan garis m tidak
sejajar. Maka garis l dan garis m akan bertemu di titik C yang membentuk
∆ABC. C terletak pada satu sisi AB atau pada sisi yang lainnya. Untuk kasus
lainnya, sudut eksterior ∆ ABC sama dengan sudut interior terpencil. (
misalkan, jika C pada sisi AB yang sama sebagai <2 maka sudut eksterior
<1 sama dengan sudut interior terpencil <2 ). Hal ini kontradiksi dengan
teorema sebelumnya. Oleh karena itu garis l
dan garis m sejajar.
Akibat 1. Dua garis
tegak lurus terhadap garis yang sama pasti sejajar.
Sebagai akibat langsung akibat 1 adalah
Akibat 2. Hanya ada
satu garis yang tegak lurus terhadap garis melalui titik eksternal.
Akibat 3. ( Eksistensi garis sejajar ). Jika titik P
tidak berada pada garis l, maka akan
ada setidaknya satu garis yang melalui P yang sejajar dengan l.
Bukti. Dari P hilangkan garis tegak lurus
pada garis l yang memiliki kaki di Q,
dan di P buat garis m yang tegak
lurus terhadap PQ. Maka garis m
sejajar dengan garis l menurut akibat
1.
Teorema 3. Jumlah dua
sudut segitiga kurang dari 180o.

180o - <B > <A, atau 180o
> <A + <B. Jadi, <A + <B < 180o, dan teorema
tersebut terbukti.
2.1.3 Pengganti
Postulat Sejajar Euclid
Postulat sejajar Euclid biasanya digantikan
oleh pernyataan berikut ini :
Hanya ada satu garis sejajar pada
garis yang melalui titik bukan pada garis tersebut.
Pernyatan ini disebut denga postulat
Playfair. Postulat ini bisa dihubungkan dengan postulat sejajar Euclid karena
sebenarnya dua pernyataan ini tidak sama. Pernyataan sebelumnya merupakan
pernyataan tentan garis sejajar, dan pernyataan kedua mengenai garis bertemu.
Bahkan kedua pernyataan tersebut memainkan peran yang sama dalam perkembangan
logis geometri. Dikatakan pernyataan ini ekivalen secara logis.
Hal ini berarti bahwa jika pernyataan pertama
dianggap sebagai postulat (bersama dengan semua postulat Euclid kecuali postulat
sejajar), kemudian pernyataan kedua dapat dideduksi sebagai teorema; dan
konversinya, jika pernyataan kedua dianggap sebagai postulat (bersama dengan
semua postulat Euclid kecuali postulat sejajar), maka pernyataan pertama dapat
dideduksi sebagai teorema. Jadi secara logis, tidak penting dua pernyataan mana
yang akan diasumsikan sebagai postulat dan yang mana yang akan dideduksi
sebagai suatu teorema.
2.1.4 Ekivalensi Postulat Euclid dan Playfair
Akan
dibuktikan ekivalensi postulat Euclid dan postulat Playfair. Pertama, dengan
mengasumsikan postulat sejajar Euclid, maka akan dideduksi postulat Playfair.
Diketahui
garis l dan titik P tidak pada l (gambar 2.5), maka akan ditunjukkan
bahwa hanya ada satu garis melalui P yang tidak pada l. diketahui bahwa ada garis melalui P yang sejajar dengan l, dan diketahui juga bagaimana cara
menggambarnya (akibat 3,teorema 2). Dari P, dihilangkan garis tegak lurus pada l dengan kaki Q dan pada P garis tegak m
yang tegak lurus pada PQ. Maka garis m
sejajar garis l.

Ringkasannya, garis l dan garis n dibagi oleh
garis transversal sehingga membentuk sudut lancip <1 dan sudut siku – siku,
yang merupakan sudut interior pada sisi yang sama dari garis transversal
tersebut. Karena jumlah sudut tersebut kurang dari 180o, poatulat
sejajar Euclid dapat diaplikasikan dan disimpulkan bahwa garis n bertemu dengan garis l. Jadi garis m hanya satu – satunya garis yang melalui P yang sejajar dengan
garis l dan dideduksikan bahwa
postulat Playfair dari postulat sejajar Euclid.
Sekarang dengan mengasumsikan postulat
Playfair, akan dideduksi postulat sejajar Euclid
Gambar 2.6
Misalkan garis m dibagi oleh garis transversal dititik Q, P yang membentuk <1
dan <2, pasangan sudut interior pada satu sisi garis transversal yang
memiliki jumlah sudut kurang dari 180o ( gambar 2.6 ), adalah :
(1)
<1 + <2 < 180o
Misalkan
<3 menunjukkan tambahan <1 yang terletak pada sisi berlawanan PQ
dari <1 dan <2 ( gambar 2.6 ), maka :
(2) <1
+ <3 = 180o
Dari hubungan (1), (2) maka :
(3) <2
< <3
Pada titik P, bentuk <QPR yang sama dengan
dan yang interior dalam berseberangan dengan <3. Maka <2 < <PQR,
sehingga RP berbeda dari garis m.
menurut teorema 2, RP sejajar dengan l.
Karenanya menurut postulat Playfair, m
tidak sejajar dengan l. Oleh karena
itu, garis m dan l bertemu.
2.1.5 Peran Postulat Sejajar Euclid
Dengan
mengasumsikan postulat sejajar Euclid (atau postulat Playfair), berikut ini
merupakan beberapa hasil penting yang dapat dibenarkan :
- jika dua garis sejajar dibagi oleh garis transversal, sebarang pasangan sudut interior dalam berseberangan yang terbentuk akan sama besar.
- jumlah sudut sebarang segitiga adalah 180°.
- sisi bertolak belakang dari jajaran genjang adalah sama besar.
- garis sejajar selalu berjarak sama.
- eksistensi segi empat dan bujur sangkar.
- teori luas menggunakan unit persegi.
- teori segitiga yang sama, yang termasuk eksistensi bangun dengan ukuran sebarang yang sama dengan bangun yang diketahui.
Postulat sejajar Euclid merupakan sumber
untuk banyak hasil yang sangat penting. Tanpa postulat tersebut (atau
ekivalennya), kita tidak akan memiliki teori luas yang sudah lama dikenal,
teori kesamaan, dan teori Pythagoras yang terkenal itu.
Cara dimana Euclid mengatur teoremanya
mengimplikasikan bahwa sesungguhnya Euclid tidak sepenuhnya puas dengan
postulat sejajarnya. Euclid manyatakan hal tersebut di awal karjanya tetapi
pernyataan itu tidak dipakainya sampai akhirnya dia tidak dapat malakukan
kemajuan tanpa postulat tersebut. Agaknya, Euclid memiliki intuisi bahwa
postulat sejajar tersebut tidak memiliki kualitas intuitif ataupun sederhana
dari postulat lainnya. Rasa yang demikian dilakukan oleh para ahli geometri
dalam selama 20 abad. Para ahli mencoba mendeduksi postulat sejajar dari
postulat lainnya, atau menggantikan postulat tersebut dengan postulat yang
nampaknya lebih pasti. Sekarang kita diskusikan tiga percobaan tersebut dalam
“menyelesaikan permasalahan” postulat sejajar Euclid.
2.1.6 Bukti Proclus tentang Postulat Sejajar Euclid
Prolus
(410-485) memberikan “bukti” tentang postulat sejajar Euclid yang kita ringkas
sebagai berikut :
dengan PQ di P. Sekarang, anggaplah ada garis
lain n melalui P yang yang sejajar
dengan l, maka n membentuk sudut lancip dengan garis PQ, yang terletak katakanlah
pada sisi kanan PQ. Bagian dari n di
sebelah kanan titik P seluruhnya termuat dalam daerah yang dibatasi oleh garis l, m
dan PQ. Sekarang dimisalkan X adalah sebarang titik di m yang letaknya di sebelah kanan titik P, misalkan XY tegak lurus
dengan l di Y dan misalkan garis XY
tersebut bertemu dengan garis n di Z.
Maka XY > XZ. Misalkan X mundur di garis m,
maka XZ meningkat secara tidak menentu, karena XZ setidaknya sama besarnya
dengan segmen dari X yang tegak lurus dengan n. Jadi XY juga meningkat secara tidak menentu. Tetapi jarak antara
dua garis sejajar harus terbatas. Oleh karena itu, akan menjadi kontradiksi dan
pengandaian salah. Jadi, m hanya
merupakan satu-satunya garis yang melalui P yang sejajar dengan garis l. Karenanya, postulat Playfair berlaku,
dan juga ekivalen dengan postulat sejajar Euclid.
Kita tidak
mengharapkan maksud yang lebih mengesankan tentang variasi yang bisa muncul
dalam argumen di bidang geometri dasar yang disampaikan oleh ahli matematika
abad 15. sekarang marilah kita uji. Argumen tersebut mencakup 3 asumsi :
- jika dua garis saling berpotongan, jarak pada suatu garis dari satu titik ke garis lainnya akan meningkat secara tak menentu, karena titik tersebut mundur (menyusut) tak berujung.
- segmen terpendek yang menghubungkan titik eksternal pada suatu garis merupakan segmen yang tegak lurus.
- jarak antara dua garis sejajar adalah terbatas.
(a) dan (b) dapat dibenarkan tanpa bantuan
postulat sejajar Euclid. Jadi inti persoalan pembuktian adalah asumsi (c).
Proclus mengasumsikan (c) sebagai postulat tambahan. Mari kita sebut sebagai
postulat asumsi Proclus tersembunyi. Kemudian bisa dinyatakan: postulat Proclus
ekivalen dengan postulat sejajar Proclus. Seperti yang dijelaskan pada hasil 4
sub bab 4, postulat sejajar Euclid mengimplikasikanbahwa jarak antara garis
sejajar selalu konstan, dan terbatas. Konversinya, melalui argumen Proclus
dapat dinyatakan bahwa postulat Proclus mengimplikasikan postulat sejajar
Euclid.
Jadi, Proclus
menggantikan postulat sejajar dengan postulat yang ekivalen, dan bukan
menetapkan validitas postulat sejajar tersebut.
2.1.7 Solusi Wallis atas Permasalahan yang ada
John
Wallis (1616-1703) menggantikan postulat sejajar Euclid dengan menggunakan
postulat berikut ini :
Ada segitiga dengan satu sisi yang telah ditetapkan sebelumnya secara
sebarang yang akan sama dengan segitiga yang diketahui
Dari sini postulat Playfair dapat dideduksi
sebagai berikut :
Jadi
jelas bahwa postulat Wallis
mengimplikasikan postulat sejajar Euclid. Seperti yang telah dibahas di
hasil 7 sub bab 4, konversi dari pernyataan tersebut akan berlaku. Jadi,
postulat Wallis secara logis, ekivalen dengan postulat

Euclid. Wallis merasakan bahwa postulatnya
sudah pasti, dan telah menangani permasalahan postulat sejajar cukup lama.
2.1.8 Percobaan Saccheri untuk Memperthankan Postulat Euclid
Girolamo Saccheri (1667-1733) melakukan studi yang mendalam tentang
geometri dalam buku yang berjudul Euclides Vindicatus, yang diterbitkan di
tahun saat kematiannya. Beliau melakukan pendekatan terhadap permasalahan
pembukatian postulat sejajar Euclid dengan cara baru yang radikal. Prosedurnya ekivalen dengan mengasumsikan
bahwa postulat sejajar Euclid salah, dan menemukan kontradiksi dengan penalaran
logis. Hal ini akan mensahkan postulat sejajar dengan menggunakan prinsip
metode tak langsung.
Maksud
Saccheri adalah studi segi empat yang memiliki sisi yang sama panjang dan tegak
lurus dengan sisi ketiga. Tanpa mengasumsikan sebarang postulat sejajar, beliau
melakukan studi mendalam tentang segi empat tersebut yang sekarang disebut
dengan segi empat Saccheri. Misalkan ABCD merupakan segi empat Saccheri dengan
AD = BC dan sudut siku-siku di A, B (gambar 2.10). Saccheri membuktikan bahwa m<C = m<D dan kemudian mempertimbangkan tiga kemungkinan yang
berhubungan dengan sudut C dan D :
- hipotesis tentang sudut siku-siku ( <C = <D = 90°)
- hipotesis tentang sudut tumpul ( <C = <D > 90°)
- hipotesis tentang sudut lancip ( <C = <D < 90°)

Jika postulat sejajar Euclid diasumsikan,
maka hipotesis sudut siku-siku akan terjadi (karena postulat sejajar
mengimplikasikan bahwa jumlah sudut sebarang segi empat adalah 360°). Argumen dasar Saccheri sebagai berikut:
Tunjukkan
bahwa hipotesis sudut tumpul dan hipotesis sudut lancip keduanya membawa
keadaan kontradiksi. Hal ini akan membentuk hipotesis sudut siku-siku yang
ekivalen dengan postulat sejajar Euclid.
Saccheri membuktikan menggunakan sederetan
teorema yang memiliki alasan yang tepat, bahwa hipotesis sudut tumpul akan
menghasilkan kontradiksi.
Beliau
mempertimbangkan implikasi hipotesis sudut lancip. Di antaranya ada sejumlah
teorema yang tidak umum, dua di antaranya kita nyatakan sebagai berikut:
Jumlah
sudut sebarang segitiga kurang dari 180°.
Jika l dan m merupakan dua garis dalam bidang, maka salah satu dari
sifat di bawah ini di penuhi:
- l dan m berpotongan, dalam kasus di mana dua garis tersebut divergen dari titik perpotongan.
- l dan m tidak berpotongan tetapi memiliki garis tegak lurus yang sama di mana dua garis tersebut divergen dalam kedua arah dari garis tegak lurus yang sama tersebut.
- l dan m tidak brpotongan dan tidak memiliki garis tegak lurus yang sama, di mana dua garis tersebut konvergen dalam satu arah langkah, dan divergen pada arah lainnya.
Saccheri tidak memandang sebagai kontradiksi,
meskipun beliau pikir harus menganggapsebagai kontradiksi dan bahkan diketahui
pada masa sekarang bahwa teori hipotesis sudut lancip Saccheri bebas
kontradikisi seperti geometri Euclid.
2.2 Lima Aksonia
Program Plato itu belum sempurna. Euclid
sebagai salah satu murid dari akademi Plato di Athena memperbarui bersama
dengan Eudoxus dan menghasilkan lima aksioma atau postulat khusus yang dalam
bahasa Yunani (aitemata) yang artinya (koinai ennoiai), misalnya jika a sama
dengan b, dan b sama dengan c, maka a sama dengan c. Geometri Euclid merupakan
satu sistem aksioman, yang mana semua teorema ("penyataan benar") adalah diambil daripada satu bilangan
aksioma-aksioma yang terhingga. Geometri Euklides merupakan sistem aksiomatik, di mana semua teorema ("pernyataan yang benar") diturunkan dari bilangan aksioma yang terbatas. Mendekati buku awalnya Elemen, Euklid memberikan
5 postulat:
a.
Untuk menggambar sebuah
garis lurus dari setiap titik ke titik yang lain
b.
Untuk mengahsilkan sebuah
garis lurus dapat diperpanjang sampai tak terhingga
dalam garis lurus.
c.
Untuk menggambarkan sebuah
lingkaran dengan pusat lingkaaran dan diameter.
d.
Semua sudut siku-siku itu
kongruen.
e.
Jika garis lurus memotong
pada dua garis lurus membentuk sudut dalam pada sisiyang sama kurang dari dua
sudut yang tepat, dua baris lurus, jika dibuat tanpa batas waktu dan bertemu
maka sudutnya kurang dari dua sudut siku-siku tersebut.
Ada beberapa pendapat yang menyatakan tentang
aksioma yang dituliskan oleh Euclid baik dalam zaman kuno maupun pada zaman
modern dengan harapan bahwa aksioma tersebut menjadi lebih jelas dan benar.
Pendapat tersebut antara lain:
a.
Melalui sebuah titik yang
bukan pada garis lurus yang diberikan, hanya satu garis
saja yang dapat ditarik dan
tak pernah bertemu garis yang diberikan (Playfair)
b.
Jumlah sudut sebuah segitiga
sama dengan jumlah dua sudut siku-siku.
c.
Pendapat lain yang mungkin
sama untuk memberikan pendapat dan apapun
ukurannya terserah (Wallis).
d.
Ada dua segitiga yang tidak
sama dan memiliki sudut yang sama(Saccheri dan
Plato)
e.
Dalam segitiga siku-siku,
sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisi yang
lainnya. (Phytagoras).
Pendapat
Playfair mendekati Euclid dan dianggap sebagai versi modern
yang secara eksplisit menyebutkan garis paralel dan disebut sebagai "dalil paralel". Jumlah sudut segitiga sama dengan dua sudut yang siku-siku. Jauh lebih signifikan adalah aksioma tentang segitiga yang diajukan dalam bentuk yang lebih kuat oleh John Wallis, seorang don Oxford dari abad ketujuh belas dan Geralamo Saccheri, seorang imam Yesuit pada abad kedelapan belas. Menurut Wallis aksioma (3) dapat dibuktikan bahwa jumlah sudut sebuah segitiga sama dengan dua sudut siku-siku.
yang secara eksplisit menyebutkan garis paralel dan disebut sebagai "dalil paralel". Jumlah sudut segitiga sama dengan dua sudut yang siku-siku. Jauh lebih signifikan adalah aksioma tentang segitiga yang diajukan dalam bentuk yang lebih kuat oleh John Wallis, seorang don Oxford dari abad ketujuh belas dan Geralamo Saccheri, seorang imam Yesuit pada abad kedelapan belas. Menurut Wallis aksioma (3) dapat dibuktikan bahwa jumlah sudut sebuah segitiga sama dengan dua sudut siku-siku.
Argumen
lain, dalam gambar 2.2.2 menunjukkan bahwa 'Teorema Pythagoras” mudah
dibuktikan dengan cara segitiga serupa. Kita mungkin bertanya dengan bukti
Euclid 's "windmill" dari proposisi-nya mengapa Euclid disukai banyak
bukti nya lebih rumit. Jawabannya terletak pada asumsi terakhir dalam bukti
yang diberikan di gambar 2.2.2, dan akibat adanya kesulitan besaran tidak dapat
dibandingkan, sendiri didirikan sebagai konsekuensi dari teorema Pythagoras.
Pendapat Meno menunjukkan bahwa diagonal dari persegi memiliki panjang
dari sisi. Tapi , seperti Pythagoras atau salah
seorang pengikutnya tidak dapat dinyatakan sebagai rasio dari dua seluruh
angka, dan pendekatan segitiga yang serupa, yang mengatakan bahwa: “rasio
dari sisi dalam segitiga yang sama adalah sama”.
Gambar 2.2.1 Bukti Segitiga
dari Wallis: Misalkan ABC segitiga. Misalkan segitiga AFE = segitiga ABC
dan setengah ukurannya. Maka:
Jadi, AF = FC dan AE = EB.
Misalkan BD = DC, maka EF = BD
= DC
Kemudian
segitiga ΔFED
ΔABC, dimana ED =
AC = AF. Jadi dalam ΔEFD dan ΔBDE, EF = BD,
DF = BE, dan ED berimpitan. Jadi ΔEFD = ΔBDE, dan
DEF =
EDB. Tapi
BCA =
EFA dan
CAB =
CFD, [Dan
ABC =
DFE]. Jadi
ABC +
BCA +
CAB = 180 °.
Kemudian
Euclid dalam teorinya tentang proporsi yang diantisipasi Dedekind tentang
definisi dari bilangan real, namun dalam eksposisi geometrisnya
disukai secara teknis walaupun lebih rumit tetapi secara konseptual kurang.
Pendekatan yang tidak bersangkutan dengan segitiga sama sama sekali.
Sebuah pendapat di Gorgias menunjukkan bahwa Plato berpikir
tentang segitiga yang sama pada waktu ia sedang berusaha untuk membangun
dasar geometri. Dalam Gorgias 508a5-7 ia membedakan "Geometris" dari "aritmatika" yang pertama hanya proporsional, sedangkan yang kedua adalah kesetaraan yang ketat. Aristoteles mengambil perbedaan dalam Nicomachean Ethics-nya, dalam bukunya Politik dan membuat dasar tafsir kesamaan distributif.
Sebuah pendapat di Gorgias menunjukkan bahwa Plato berpikir
tentang segitiga yang sama pada waktu ia sedang berusaha untuk membangun
dasar geometri. Dalam Gorgias 508a5-7 ia membedakan "Geometris" dari "aritmatika" yang pertama hanya proporsional, sedangkan yang kedua adalah kesetaraan yang ketat. Aristoteles mengambil perbedaan dalam Nicomachean Ethics-nya, dalam bukunya Politik dan membuat dasar tafsir kesamaan distributif.
Gambar 2.2.2 Bukti Pythagoras
dengan Segitiga yang sama: Misalkan:
ΔABC dengan sudut siku-siku di B. Gambarkan garis tegak lurus dari B keAC di D. Lalu ΔADB
ΔABC dan ΔBDC
ΔABC. 
ΔABC dengan sudut siku-siku di B. Gambarkan garis tegak lurus dari B keAC di D. Lalu ΔADB
Jadi
(AD + DC).AC = AB2 + BC2. Jadi AC2 = AB2
+ BC2. [Kami
mengasumsikan bahwa sudut Δ berjumlah 180°, dan AD/AB dan Δ yang lainnya juga sama].
mengasumsikan bahwa sudut Δ berjumlah 180°, dan AD/AB dan Δ yang lainnya juga sama].
Plato
dan Aristoteles melihat bahwa ada universalitas
tentang konsep kesamaan, dan kesamaan yang mengharuskan kami
memperlakukan sama. Plato berpendapat, diperlukan perlakuan yang sama seperti pada kasus yang sama, tetapi diberi perlakuan berbeda pada kasus berbeda. "Geometris kesetaraan " dicetuskan oleh Plato dan Aristoteles untuk mendasari
prinsip bahwa harus ada kesamaan perlakuan untuk semua dengan perbedaan perlakuan aktual pada keadaan yang berbeda. Setiap orang harus diberi bagian yang sama, kata Aristoteles, tetapi mereka adalah bagian yang sama sebanding dengan (Axia) jasa mereka, dan tergantung pada keadaan. Ini berbeda dengan pendapat egalitarian fifthcentury Athena, dan memiliki konsekuensi penting bagi politik berpikir di dunia kuno.
tentang konsep kesamaan, dan kesamaan yang mengharuskan kami
memperlakukan sama. Plato berpendapat, diperlukan perlakuan yang sama seperti pada kasus yang sama, tetapi diberi perlakuan berbeda pada kasus berbeda. "Geometris kesetaraan " dicetuskan oleh Plato dan Aristoteles untuk mendasari
prinsip bahwa harus ada kesamaan perlakuan untuk semua dengan perbedaan perlakuan aktual pada keadaan yang berbeda. Setiap orang harus diberi bagian yang sama, kata Aristoteles, tetapi mereka adalah bagian yang sama sebanding dengan (Axia) jasa mereka, dan tergantung pada keadaan. Ini berbeda dengan pendapat egalitarian fifthcentury Athena, dan memiliki konsekuensi penting bagi politik berpikir di dunia kuno.
Bukti
Teorema Pythagoras 'adalah puncak dari Euclid's buku pertama, dan telah
menunjukkan bagaimana hal itu dapat dibuktikan tidak hanya dari kelima postulat
Euclid sendiri melainkan dari proposisi Wallis ' tentang segitiga serupa. Itu
wajar untuk bertanya apakah pada gilirannya dapat dibuktikan dari teorema
Pythagoras 'diambil sebagai kebenaran. Hal ini paling mudah untuk menunjukkan
aksioma Saccheri’s (d), bahwa diberikan Proposisi Pythagoras, harus ada dua
segitiga yang sama bentuk tetapi ukuran yang berbeda.
Gambar 2.2.3 Bukti Saccheri
dari Pythagoras:
Misalkan
ABC adalah sudut siku-suku di B, misalkan BA
= CB. Perpanjang CB hingga D, sehingga BD = CB.
Kemudian ΔABC = ΔABD; sehingga
AD = AC dan
BDA =
BCA, dan ΔABC = ΔDBA,
BAC =
BAD.
Dengan menggunakan rumus Pythagoras:
Jadi
CAD adalah sudut siku-siku, dan
ABC
CAD.
Ini
hanya sedikit lebih rumit dan diserahkan kepada pembaca-
untuk memberikan prosedur untuk membangun sebuah segitiga ukuran sewenang-wenang mirip dengan segitiga yang diketahui. Kenyataan bahwa proposisi Pythagoras, bukannya diambil sebagai Teorema harus dibuktikan dari aksioma Euclid's, dengan menggunakan aksioma karakteristik geometri yang menunjukkan bahwa kita dapat mengubah nama geometri Euclidean "Pythagoras geometri". Meskipun Euclid, bersama dengan Plato dan Eudoxus, bertanggung jawab secara sistematis sebagai teori aksiomatik, kita perlu memandang proposisi Pythagoras dari beberapa sudut pandang yang paling khas dan mendasar.
untuk memberikan prosedur untuk membangun sebuah segitiga ukuran sewenang-wenang mirip dengan segitiga yang diketahui. Kenyataan bahwa proposisi Pythagoras, bukannya diambil sebagai Teorema harus dibuktikan dari aksioma Euclid's, dengan menggunakan aksioma karakteristik geometri yang menunjukkan bahwa kita dapat mengubah nama geometri Euclidean "Pythagoras geometri". Meskipun Euclid, bersama dengan Plato dan Eudoxus, bertanggung jawab secara sistematis sebagai teori aksiomatik, kita perlu memandang proposisi Pythagoras dari beberapa sudut pandang yang paling khas dan mendasar.
Formulasi
alternatif yang mendalilkan kelima ppostulat Euclid kurang praktis dan mungkin
lebih diterima versi Euclid sendiri. Tentu Teorema Pythagoras 'masih jauh
dari benar, sehingga harus dibuktikan. Bahkan, tidak ada
dari formulasi alternatif yang benar-benar jelas, dan tampaknya membutuhkan beberapa pembenaran lebih lanjut. Wallis dan Saccheri sedang mencari penyelesaian yang lebih baik, Saccheri mengabiskan bertahun-tahun untuk mencoba membuktikan kelima postulat dengan mereduksi dan penyerapan, asumsi itu menjadi salah dan mencoba mendapatkan kontradiksi. Usaha ini gagal, tetapi dalam perjalanannya menemukan non-Euclidean geometri. Teorema geometri non-Euclidean membawa mereka ke Saccheri yang lebih masuk akal, meskipun ia tidak bisa memperoleh sebuah inkonsistensi yang formal, tetapi meskipun aneh, mereka benar-benar cukup konsisten, dan kemudian diakui menjadi teorema non-Euclidean geometri,yang akan disebut sebagai geometri "hiperbola”.
dari formulasi alternatif yang benar-benar jelas, dan tampaknya membutuhkan beberapa pembenaran lebih lanjut. Wallis dan Saccheri sedang mencari penyelesaian yang lebih baik, Saccheri mengabiskan bertahun-tahun untuk mencoba membuktikan kelima postulat dengan mereduksi dan penyerapan, asumsi itu menjadi salah dan mencoba mendapatkan kontradiksi. Usaha ini gagal, tetapi dalam perjalanannya menemukan non-Euclidean geometri. Teorema geometri non-Euclidean membawa mereka ke Saccheri yang lebih masuk akal, meskipun ia tidak bisa memperoleh sebuah inkonsistensi yang formal, tetapi meskipun aneh, mereka benar-benar cukup konsisten, dan kemudian diakui menjadi teorema non-Euclidean geometri,yang akan disebut sebagai geometri "hiperbola”.
2.3 GEOMETRI
NON-EUCLIDEAN
Sekitar
tahun 1830 (Abad ke Sembilan Belas), matematikawan Hongaria, János Bolyai dan
matematikawan Rusia, Nikolai Lobachevsky secara terpisah menerbitkan risalah
tentang geometri hiperbolik. Akibatnya, geometri hiperbolik disebut
geometri Bolyai-Lobachevskian, baik sebagai matematikawan, independen satu sama
lain, adalah penulis dasar dari geometri non-Euclidean. Sementara Lobachevsky
menciptakan geometri non-Euclidean dengan meniadakan postulat paralel,
Bolyai bekerja di luar geometri di mana kedua Euclidean dan geometri
hiperbolik yang mungkin tergantung pada parameter k. Bolyai mengakhiri karyanya
dengan menyebutkan bahwa tidak mungkin untuk memutuskan melalui penalaran
matematis saja.
Jika
geometri Euclidean alam semesta fisik atau non-Euclidean, ini adalah tugas
untuk ilmu fisik. Selanjutnya Playfair membuat postulat "Melalui sebuah
titik yang bukan pada garis lurus yang diberikan, hanya satu garis saja yang
dapat ditarik dan tak pernah bertemu garis yang diberikan."
Postulat
sejajar Riemann : “Tidak ada garis yang sejajar”. Ada dua teori
geometris yang mengasumsikan postulat sejajar Riemann. Dalam teori pertama,
sebarang dua garis yang berpotongan dalam tepat satu titik, tetapi tidak ada
garis yang memisahkan bidang tersebut. Dalam teori kedua, dua garis berpotongan
dalam tepat dua titik, dan setiap garis memisahkan bidang. Teori ini disebut geometri
eliptik tunggal dan geometri eliptik rangkap dua. (Istilah “tunggal” dan
“rangkap” mengindikasikan sifat perpotongan dua garis dalam geometri; dan
Istilah “eliptik” digunakan dalam artian suatu klasifikasi yang didasarkan atas
geometri projektif di mana geometri Euclid dan Lobachevskian disebut parabolic
dan hiperbolik).
John
Wallis (1616-1703) menggantikan postulat sejajar Euclid dengan menggunakan
postulat berikut ini : “Ada segitiga dengan satu sisi yang telah ditetapkan
sebelumnya secara sebarang yang akan sama dengan segitiga yang diketahui.”
Girolamo
Saccheri (1667-1733) melakukan studi yang mendalam tentang geometri dalam buku
yang berjudul Euclides Vindicatus, yang diterbitkan di tahun saat kematiannya.
Beliau melakukan pendekatan terhadap permasalahan pembuktian postulat sejajar
Euclid dengan cara baru yang radikal. Prosedurnya ekivalen dengan mengasumsikan
bahwa postulat sejajar Euclid salah, dan menemukan kontradiksi dengan penalaran
logis. Hal ini akan mensahkan postulat sejajar dengan menggunakan prinsip
metode tak langsung. Argumen dasar Saccheri sebagai berikut:
“Tunjukkan bahwa hipotesis sudut
tumpul dan hipotesis sudut lancip keduanya membawa keadaan kontradiksi. Hal ini
akan membentuk hipotesis sudut siku-siku yang ekivalen dengan postulat sejajar
Euclid”.
Saccheri membuktikan menggunakan sederetan teorema
yang memiliki alasan yang tepat, bahwa hipotesis sudut tumpul akan menghasilkan
kontradiksi. Beliau mempertimbangkan implikasi hipotesis sudut lancip. Di
antaranya ada sejumlah teorema yang tidak umum, dua di antaranya kita nyatakan
sebagai berikut:
“Jumlah sudut
sebarang segitiga kurang dari 180°”.
Jika
l dan m merupakan dua garis dalam bidang, maka salah satu dari sifat di bawah
ini di penuhi:
a.
l
dan m berpotongan, dalam kasus di mana dua garis tersebut divergen
dari titik perpotongan.
b.
l
dan m tidak berpotongan tetapi memiliki garis tegak lurus yang sama di
mana dua garis tersebut divergen dalam kedua arah dari
garis tegak lurus
yang sama tersebut.
c.
l
dan m tidak brpotongan dan tidak memiliki garis tegak lurus yang sama,
di mana dua garis tersebut konvergen dalam satu arah
langkah, dan
divergen pada arah lainnya.
Saccheri
tidak memandang sebagai kontradiksi, meskipun beliau pikir harus menganggap
sebagai kontradiksi dan bahkan diketahui pada masa sekarang bahwa teori
hipotesis sudut lancip Saccheri bebas kontradikisi seperti geometri Euclid.
Penemuan
kesalahan ini membuat berkembangnya geometri model baru. Dirintis oleh Beltrami
dari Italia, disusul Cayley dari Inggris, Poincare dari Perancis dan Felix
Klein dari Jerman. Terakhir, dirombak, diubah dan dilakukan penyesesuaiani
kecil terhadap postulat-postulat Euclid oleh [Bernhard] Riemann dari Jerman
sehingga muncul bentuk-bentuk baru: hiperbola, parabola, ellips yang merupakan
jawaban bahwa ilmu alam semesta bukanlah pengikut aliran Euclid
(non-Euclidian).
Non-Euclidean
geometri yang cukup asing, sampai ketika Saccheri memperkenalkan kepada kita.
Hal ini paling mudah untuk memvisualisasikan non-Euclidean geometri eliptik
dengan mempertimbangkan beberapa permukaan bola, seperti bumi atau dari buah
jeruk. Sangat mudah kemudian untuk melihat bahwa jika lingkaran besar diambil
untuk menjadi "garis", tidak ada garis paralel dalam eliptik
geometri. Setiap dua lingkaran besar bertemu dua kali, sebagai meridian bujur
yang bertemu di kedua Kutub Utara dan di Kutub Selatan. (Yang disebut
"paralel dari lintang "adalah tidak semuanya paralel, karena mereka
tidak di dalam interpretasi garis lurus, melainkan lingkaran) Jika kita
pertimbangkan. suatu oktan jeruk, atau segitiga bola di bumi permukaan
ditandai dengan meridian Greenwich, Khatulistiwa, dan bujur 90° Barat, kita
melihat bahwa ia memiliki sudut kanan pada masing masing titik, sehingga jumlah
sudut yang menambahkan sampai tiga sudut kanan, 270°, bukan hanya dua sudut
siku-siku berjumlah total 180°. Sebuah segitiga kecil akan memiliki jumlah
sudut yang lebih dekat ke 180°, yang akan cenderung sebagai segitiga semakin
kecil dan lebih kecil. Memang, jika kita tahu seberapa besar sudut, kita dapat
mengatakan keharusan dua belah pihak, yang beberapa berbentuk segitiga dengan
masing-masing sudut 90 ° mereka adalah adalah salah satu seperempat dari
keliling lingkaran besar. Ini menggambarkan tesis Wallis-Saccheri bahwa tidak
ada yang sama segitiga ukuran yang berbeda dalam geometri non-Euclidean.
Maksud
Saccheri adalah studi segi empat yang memiliki sisi yang sama panjang dan tegak
lurus dengan sisi ketiga. Tanpa mengasumsikan sebarang postulat sejajar, beliau
melakukan studi mendalam tentang segi empat tersebut yang sekarang disebut
dengan segi empat Saccheri. Misalkan ABCD merupakan segi empat Saccheri dengan
AD = BC dan sudut siku-siku di A, B (gambar 2.10). Saccheri membuktikan bahwa m<C
= m<D dan kemudian mempertimbangkan tiga kemungkinan yang berhubungan
dengan sudut C dan D :
- Hipotesis tentang sudut siku-siku ( <C = <D = 90°)
- Hipotesis tentang sudut tumpul ( <C = <D > 90°)
- Hipotesis tentang sudut lancip ( <C = <D < 90°)
Hal
ini mudah dilihat dalam kasus oktan bahwa Pythagoras proposisi
jauh dari benar, karena dalam kasus bahwa. Dengan cara yang sama keliling lingkaran digambar pada permukaan bola adalah kurang dari. Jika kita mengambil sebagai pusat Kutub Utara dan memiliki radius satu seperempat lingkaran besar, kita harus menarik Khatulistiwa yang panjangnya tidak (lingkaran besar)) artinya rasio lingkar ke jari-jari lingkaran ini tidak tapi 4. Permukaan bola merupakan kelengkungan positif: jika kita mempertimbangkan dua pesawat saling ortogonal berpotongan sepanjang garis yang tegak lurus itu sendiri ke permukaan, setiap pesawat memotong permukaan dalam kurva yang cekung sisi. Para Konseptual Matematika mendefinisikan lengkungan permukaan adalah positif pada sisi cekung.Adalah jauh lebih sulit untuk membayangkan permukaan dengan negatif
kelengkungan. Permukaan pelana, atau melewati gunung, adalah sebuah contoh.
jauh dari benar, karena dalam kasus bahwa. Dengan cara yang sama keliling lingkaran digambar pada permukaan bola adalah kurang dari. Jika kita mengambil sebagai pusat Kutub Utara dan memiliki radius satu seperempat lingkaran besar, kita harus menarik Khatulistiwa yang panjangnya tidak (lingkaran besar)) artinya rasio lingkar ke jari-jari lingkaran ini tidak tapi 4. Permukaan bola merupakan kelengkungan positif: jika kita mempertimbangkan dua pesawat saling ortogonal berpotongan sepanjang garis yang tegak lurus itu sendiri ke permukaan, setiap pesawat memotong permukaan dalam kurva yang cekung sisi. Para Konseptual Matematika mendefinisikan lengkungan permukaan adalah positif pada sisi cekung.Adalah jauh lebih sulit untuk membayangkan permukaan dengan negatif
kelengkungan. Permukaan pelana, atau melewati gunung, adalah sebuah contoh.
Pada seperti permukaan keliling lingkaran adalah lebih dari 2 kali jari-jari, dan sejalan akar itu di sisi miring lebih besar dari jumlah kuadrat pada dua sisi lainnya. Hal ini kurang mudah untuk melihat bahwa jumlah sudut segitiga adalah kurang dari 180°, tetapi jika kita mempertimbangkan bagaimana sebuah perbedaan yang sangat kecil saat seseorang melewati gunung dapat menyebabkan tujuan luas yang terpisah, kita dapat menerima bahwa segitiga bisa memiliki sudut yang menambahkan sampai kurang dari 180°.
Jika
kita mengambil fitur ini, hal itu adalah area minimum segitiga. Ini sekali lagi
menunjukkan bagaimana postulat Wallis-Saccheri gagal untuk menunjukkan
non-Euclidean geometri. Hal ini juga menarik perhatian fitur lain yang
berkaitan dengan non-Euclidean geometri. Kedua geometri hiperbolik dan
eliptik memiliki "alami unit "; dalam geometri hiperbolik ada daerah
minimum segitiga, dan dalam geometri eliptik ada panjang maksimum garis.
(Inilah sebabnya mengapa untuk geometri eliptik kita perlu mengubah tidak hanya
mendalilkan kelima Euclid tetapi juga yang kedua, yang mengambil untuk
menunujukkan bahwa sebuah garis lurus dapat diperpanjang tanpa batas jauh.)
Non-Euclidean
geometri tetap asing. Kita bisa membawa diri kita sendiri
untuk memiliki beberapa pemahaman dari mereka dan untuk memvisualisasikan mereka untuk batas tertentu, tetapi mereka memiliki fitur yang tidak terbiasa dan mungkin tetap tidak disukai bahkan setelah lama dikenal, tapi
bukan untuk mengatakan bahwa mereka tidak konsisten. Dan sebenarnya non-Euclidean geometri sangat konsisten.
untuk memiliki beberapa pemahaman dari mereka dan untuk memvisualisasikan mereka untuk batas tertentu, tetapi mereka memiliki fitur yang tidak terbiasa dan mungkin tetap tidak disukai bahkan setelah lama dikenal, tapi
bukan untuk mengatakan bahwa mereka tidak konsisten. Dan sebenarnya non-Euclidean geometri sangat konsisten.
Sangat
mudah untuk mengatakan bahwa geometri adalah konsisten, sulit untuk menunjukkan
hal itu. Saccheri telah menyimpulkan bahwa sistem ia menyelidiki begitu masuk
akal untuk tidak konsisten, dan ada pembuktian bahwa dia salah? Pada akhirnya
Felix Klein tidak membuktikan bahwa dia salah, dengan cara sebuah "bukti
konsistensi relatif" yang sangat penting dalam dasar matematika. Klein
menghasilkan model geometri hiperbolik dalam geometri Euclidean. Dia dianggap
sebagai bagian dari pengikut Euclidean interior Dia kemudian berpendapat bahwa
jika ada inkonsistensi yang sesuai pada bidang Euclidean, dan geometri
Euclidean akan menjadi tidak konsisten juga. Jadi, geometri hiperbolik itu
relatif konsisten untuk Euclidean geometri.
Klein’s
mengatakan membuktikan sendiri adalah rumit. Kita dapat menghargai argumennya
jika kita menganggap bukan bukti konsistensi relatif dengan cara model baru
saja diberikan. Aksioma dua dimensi geometri eliptik pada permukaan bola,
dengan poin dalam geometri eliptik yang diwakili oleh titik-titik pada
permukaan bola, dan garis dalam geometri eliptik diwakili
oleh lingkaran besar pada permukaan bola. Jika aksioma
geometri elips tidak konsisten, maka kita bisa menghasilkan sebuah bukti urutan, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.3.3, di mana setiap baris (diwakili
di sisi kiri tabel) adalah rumus yang terbentuk dari geometri berbentuk bulat panjang, dan aksioma dari satu atau lebih baris sebelumnya oleh beberapa aturan inferensi, dan baris terakhir adalah dari bentuk.
oleh lingkaran besar pada permukaan bola. Jika aksioma
geometri elips tidak konsisten, maka kita bisa menghasilkan sebuah bukti urutan, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.3.3, di mana setiap baris (diwakili
di sisi kiri tabel) adalah rumus yang terbentuk dari geometri berbentuk bulat panjang, dan aksioma dari satu atau lebih baris sebelumnya oleh beberapa aturan inferensi, dan baris terakhir adalah dari bentuk.
Tapi sekarang mempertimbangkan bukti urutan
bukan sebagai urutan formal, formula tentang titik dan garis dalam geometri
eliptik, tetapi formula baik terbentuk sekitar poin
dan besar lingkaran dalam sub ruang dua dimensi atau tiga dimensi
Euclidean geometri. Apa aksioma bawah interpretasi elips sekarang
proposisi benar dan dapat dibuktikan dari aksioma tiga dimensi. Oleh karena itu kita bisa mengisi kami bukti-urutan untuk membuktikan ini dari aksioma
tiga dimensi geometri Euclidean.
dan besar lingkaran dalam sub ruang dua dimensi atau tiga dimensi
Euclidean geometri. Apa aksioma bawah interpretasi elips sekarang
proposisi benar dan dapat dibuktikan dari aksioma tiga dimensi. Oleh karena itu kita bisa mengisi kami bukti-urutan untuk membuktikan ini dari aksioma
tiga dimensi geometri Euclidean.
Non-Euclidean
geometri demikian dibenarkan pada skor
konsistensi. Dan tidak adanya inkonsistensi yang pasti dari matematikawan telah sulit sekali untuk membenarkan alasan mereka pada setiap alasan lainnya.Munculnya aliran non-Euclidian menyebabkan perubahan besar dalam konsep geometri. Sebagai akibat dari perubahan besar ini dalam konsep geometri, konsep "ruang" menjadi sesuatu yang kaya dan berbeda, seperti analisis kompleks dan mekanik klasikal.
konsistensi. Dan tidak adanya inkonsistensi yang pasti dari matematikawan telah sulit sekali untuk membenarkan alasan mereka pada setiap alasan lainnya.Munculnya aliran non-Euclidian menyebabkan perubahan besar dalam konsep geometri. Sebagai akibat dari perubahan besar ini dalam konsep geometri, konsep "ruang" menjadi sesuatu yang kaya dan berbeda, seperti analisis kompleks dan mekanik klasikal.
Jenis
tradisional geometri telah dikenal seperti dari ruang homogeneous, yaitu ruang
itu mempunyai bekalan simetri yang mencukupi, supaya dari poin ke poin mereka
kelihatan sama. Selain munculnya aliran non-Euclidian yang menarik perhatian
seluruh matematikawan di berbagai belahan dunia. Pada era ini muncul pula
karya-karya baru yang menjadi dasar dari matematika modern, salah satunya
adalah teori himpunan.
2.4 Sebangunan dan Kongruen
Pengertian kesebangunan dan
kongruen
Dua bangun
datar atau lebih dengan perbandingan panjang sisi yang senilai dan sudut yang
bersesuaian maka bangun datar tersebut sebangun . Jika dua atau lebih bangun
datar mempunyai bentuk dan ukuran yang sama dan mempunyai sudut yang
bersesuaian sama besar maka bangun datar tersebut kongruen.
Kesebangunan
dan kekongruenan biasanya digunakan untuk membandingkan dua buah bangun datar
(atau lebih) dengan bentuk yang sama. dua buah bangun datar dapat dikatakan sebangun apabila panjang setiap
sisi pada kedua bangun datar tersebut memiliki nilai perbandingan yang sama.
sedangkan kongruen memiliki konsep yang lebih mendetail, apabila dua buah (atau
lebih) bangun datar memiliki bentuk, ukuran, serta besar sudut yang sama barulah
mereka dapat disebut sebagai bangun datar yang kongruen.
Perhatikan gambar berikut:

2.4.1 Pengertian Kesebangunan
Kesebangunan yaitu
bangun-bangun yang memiliki bentuk yang sama dengan ukuran yang sama atau
berbeda. Secara umum dua buah bangun datar dikatakan sebangun (similar) jika
sisi-sisi yang bersesuaian mempunyai perbandingan yang sama.
Kesebangunan adalah
kesamaan perbandingan panjang sisi dan besar sudut antara dua buah bangun datar
atau lebih. Pengertian kesebangunan seperti ini berlaku umum untuk setiap
bangun datar. Dua bangun datar dikatakan sebangun jika memenuhi dua syarat
berikut.
1) Panjang sisi-sisi yang bersesuaian dari
kedua bangun itu memiliki perbandingan senilai.
2) Sudut-sudut yang bersesuaian dari kedua
bangun itu sama besar.
Salah satu syarat
kesebangunan adalah sudut-sudut yang bersesuaian sama besar. Maksud dari kata
sama besar adalah ukuran sudutnya sebanding, Dua bangun yang kongruen
pasti sebangun, tetapi dua bangun yang sebangun belum tentu kongruen. Bangun-bangun
yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama dikatakan bangun-bangun yang
kongruen. Pengertian kekongruenan tersebut berlaku juga untuk setiap bangun
datar.
2.4.2 Pengertian Kongruen
Bangun-bangun
geometri dikatakan kongruen (sama sebangun) jika dan hanya jika bangun-bangun
itu mempunyai ukuran dan bentuk yang sama. Jadi bisa diingat betul bahwa
kongruen adalah bentuknya sama dan ukurannya sama. Jika tidak memenuhi salah
satu saja, maka bangun tersebut tidak kongruen.
Dua bangun dikatakan kongruen jika sudut-sudut yang
bersesuaian sama besar dan sisi yang bersesuaian mempunyai panjang yang sama.
Syarat kekongruenan
a).Sudut-sudut yang bersesuaian sama besar
b).Panjang sisi-sisi yang bersesuaian sama dua bangun yang kongruen pasti sebangun. tetapi dua bangun yang sebangun belum tentu kongruen
a).Sudut-sudut yang bersesuaian sama besar
b).Panjang sisi-sisi yang bersesuaian sama dua bangun yang kongruen pasti sebangun. tetapi dua bangun yang sebangun belum tentu kongruen
Kekongruenan pada
segitiga
a).sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang (s.s.s)
b).Dua sisi yang bersesuaian sama panjang dan sudut yang diapitnya sama besar (s.sd.s)
c).Dua sudut yang bersesuaian sama besar dan sisi yang berada diantarannya sama panjang (sd.s.sd)
d).Dua sudut yang bersesuaian sama besar dan sisi yang berada di hadapannya sama panjang (sd.sd.s)
a).sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang (s.s.s)
b).Dua sisi yang bersesuaian sama panjang dan sudut yang diapitnya sama besar (s.sd.s)
c).Dua sudut yang bersesuaian sama besar dan sisi yang berada diantarannya sama panjang (sd.s.sd)
d).Dua sudut yang bersesuaian sama besar dan sisi yang berada di hadapannya sama panjang (sd.sd.s)
2.4.3
Kesebangunan Segitiga
1. Pengertian
Segitiga yang Sebangun
Pada
gambar di bawah tampak dua segitiga, yaitu ∆ ABC dan ∆ DEF. Perbandingan
panjang sisi-sisi yang bersesuaian pada kedua segitiga tersebut adalah sebagai
berikut:

Sudut-sudut
yang bersesuain yaitu
ﮮ A = ﮮ D,
ﮮ B = ﮮ E, dan
ﮮ C = ﮮ F.
Karena
sisi-sisi yang bersesuaian mempunyai perbandingan yang senilai dan sudut yang
bersesuaian sama besar maka ∆ ABC dan ∆ DEF sebangun.
Jadi,
kesebangunan dua segitiga dapat diketahui cukup dengan menunjukkan bahwa
perbandingan panjang sisi-sisi yang bersesuaian senilai dan sama besar.
Dari
uraian di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut. Dua segitiga dikatakan
sebangun jika memenuhi salah satu syarat berikut :
a.
Perbandingan panjang
sisi-sisi yang bersesuaian senilai.
b.
Dua pasang sudut yang
bersesuaian yang sama besar.
2. Syarat
Dua Segitiga Sebangun
a. Sudut-Sudut
yang Bersesuaian
Jika
sudut-sudut yang bersesuaian pada dua buah segitiga sama besar, maka sisi-sisi
yang bersesuaian adalah sebanding.
Jadi, jika sudut-sudut yang
besesuaian pada dua buah segitiga sama besar, maka kedua segitiga itu pasti
sebangun.
b. Sisi-Sisi
yang Bersesuaian
Jika
sisi-sisi yang bersesuain pada dua buah segitiga sebanding atau memiliki
perbandingan yang sama, maka sudut-sudut yang besesuaian sama besar.Jadi, bila
sisi-sisi yang bersesuaian pada dua buah segitiga sebanding, maka kedua
segitiga itu pasti sebangun.
Perhatikan gambar
dibawah ini:

Dua segitiga diatas saling
sebangun, sehingga
∠ A = ∠ P
∠ B = ∠ Q
∠ C = ∠ R
AB/PQ, BC/QR, AC/PR
Karena sisi-sisi yang
bersesuaian mempunyai perbandingan yang senilai dan sudut yang bersesuaian sama
besar, maka ∆ ABC dan ∆ PQR sebangun.
3. Kesebangunan Khusus dalam
Segitiga Siku-Siku
Dalam
segitiga siku-siku terdapat kesebangunan khusus. Perhatikan gambar di samping.
Pada segitiga siku-siku di bawah ini.

a.
AD2 = BD x CD;
b.
AB2 = BD x BC;
c.
AC2 = CD x CB.
Contoh :
Pada gambar di bawah diketahui AB = 6 cm dan BC = 8 cm. Tentukan
Pada gambar di bawah diketahui AB = 6 cm dan BC = 8 cm. Tentukan
a.
AC;
b.
AD;
c.
BD.

Jawab:
a. AC2 =
AB2+BC2
= 62 + 8
= 36+64
= 100 è AC = √100 = 10
b. AB2 =
AD x AC
62 =
AD x 10
36
= AD x l0
AD
= 36/10
=
3,6 cm
c. BD2 =
AD x DC
= 3,6 x 6,4
= 23,04
BD = √23,04 è 4,8
cm
4. Menghitung
Panjang Salah Satu Sisi yang Belum Diketahui dari Dua Segitiga yang Sebangun
Konsep kesebangunan dua segitiga dapat digunakan untuk menghitung panjang
salah satu sisi segitiga sebangun yang belum diketahui. Coba perhatikan contoh
berikut!
Diketahui
∆ ABC sebangun dengan ∆ DEF. Tentukan EF ?
Jawab:


D. Kongruensi
Segitiaga
1. Pengertian
Segitiga yang Kongruen
Segitiga
yang kongruen adalah segitiga yang bentuknya sama dan ukurannya sama. Segitiga
kongruen memang harus mempunyai bentuk dan ukuran yang sama. Tetapi karena
segitiga merupakan bangun yang istimewa, maka segitiga ini mempunyai beberapa
hal penting mengenai kongruen. Jadi, kita tidak perlu mencari ketiga panjang
sisinya dan mencari 3 besar sudutnya.
2. Sifat-Sifat
Dua Segitiga yang Kongruen
Untuk
dapat memahami sifat-sifat dua segitiga yang kongruen, perhatikan Gambar di
atas ini. Karena segitiga-segitiga yang kongruen mempunyai bentuk dan ukuran
yang sama maka masing-masing segitiga jika diimpitkan akan tepat saling
menutupi satu sama lain.
Gambar
di atas menunjukkan ∆PQT dan ∆QRS kongruen. Perhatikan panjang sisi-sisinya.
Tampak bahwa PQ = QR, QT = RS. dan QS = PT sehingga sisi-sisi yang bersesuaian
dari kedua segitiga sama panjang.
Selanjutnya, perhatikan besar sudut-sudutnya. Tampak bahwa ﮮTPQ = ﮮSQR,ﮮPQT = ﮮ QRS, dan ﮮPTQ = ﮮQSR sehingga sudut-sudut yang bersesuaian dari kedua segitiga tersebut sama besar.
Selanjutnya, perhatikan besar sudut-sudutnya. Tampak bahwa ﮮTPQ = ﮮSQR,ﮮPQT = ﮮ QRS, dan ﮮPTQ = ﮮQSR sehingga sudut-sudut yang bersesuaian dari kedua segitiga tersebut sama besar.
Dari uraian di atas dapat
disimpulkan sebagai berikut.
Dua buah segitiga dikatakan
kongruen jika dan hanya jika memenuhi sifat-sifat berikut.
·
Sisi-sisi yang bersesuaian
sama panjang.
·
Sudut-sudut yang
bersesuaian sama besar.
3. Syarat
Dua Segitiga Kongruen
Dua
segitiga dikatakan kongruen jika dipenuhi salah satu dari tiga syarat berikut.
a. Ketiga
pasang sisi yang bersesuaian sama panjang (sisi, sisi, sisi).
Dua
segitiga di bawah ini, yaitu ∆ ABC dan ∆ DEF mempunyai panjang sisi-sisi yang
sama.
Perbandingan
yang senilai untuk sisi-sisi yang bersesuaian menunjukkan bahwa kedua segitiga
tersebut sebangun. Karena sebangun maka sudut-sudut bersesuaian juga sama
besar, yaitu ﮮ A= ﮮ D, ﮮ B= ﮮ E,dan ﮮ C= ﮮ F.
Karena
sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang dan sudut-sudut yang bersesuaian sama
besar maka ∆ ABC dan ∆ DEF kongruen.
b. Dua
sisi yang bersesuaian sama panjang dan sudut yang dibentuk oleh sisi-sisi itu
sama besar (sisi, sudut, sisi).
Pada
gambar di atas, diketahui bahwa AB = DE, AC = DF, dan ﮮ CAB = ﮮEDF.
Apakah ∆ ABC dan ∆ DEF kongruen? Jika dua segitiga tersebut diimpitkan maka
akan tepat berimpit sehingga diperoleh :
Hal
ini berarti ∆ ABC dan ∆ DEF sebangun sehingga diperoleh
ﮮA = ﮮD, ﮮB = ﮮ E, dan ﮮC = ﮮE Karena sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang, maka ∆ ABC dan ∆ DEF kongruen.
ﮮA = ﮮD, ﮮB = ﮮ E, dan ﮮC = ﮮE Karena sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang, maka ∆ ABC dan ∆ DEF kongruen.
c. Dua
sudut yang bersesuaian sama besar dan sisi yang menghubungkan kedua titik sudut
itu sama panjang (sudut, sisi, sudut).
Pada
gambar di atas, ∆ ABC dan ∆ DEF mempunyai sepasang sisi bersesuaian yang sama
panjang dan dua sudut bersesuaian yang sama besar, yaitu AB = DE, ﮮ A = ﮮ D. Dan ﮮB
= ﮮE. Karena ﮮA
= ﮮD dan ﮮB =ﮮE
maka ﮮC = ﮮF.
Jadi. ∆ ABC dan ∆ DEF sebangun. Karena sebangun maka sisi-sisi yang bersesuaian
rnempunyai perbandingan yang senilai.

4. Perbandingan
Sisi-sisi Dua Segitiga Kongruen
Jika
dua buah segitiga kongruen, maka sisi-sisi yang berada di depan sudut yang sama
besar mempunyai panjang sama. Perbandingan sisi-sisi segitiga pertama sama
dengan perbandingan sisi-sisi segitiga yang kedua.
2.5.1
Segitiga
2.5.2
Pengrtian segitiga
Diberikan tiga buah titik A, B dan C yang tidak
segaris. Titik A dihubungkan dengan B, titik B dihubungkan dengan titik C, dan
titik C dihubungkan dengan titik A. Bangun yang terbentuk disebut segitiga.
gambar :
segitiga tersebut merupakan segitiga ABC.
Perhatikan
sisi-sisi segitiga diatas. Sisi-sisi yang membentuk segitiga ABC berturut-turut
adalah AB, BC, dan AC.
Sudut-sudut
yang terdapat pada segitiga ABC sebagai berikut.
Sudut A atau sudut BAC atau sudut
CAB.
Sudut B atau Sudut ABC atau Sudut
CBA.
Sudut C atau Sudut ACB atau Sudut
BCA.
Segitiga
merupakan bangun datar yang mempunyai tiga sisi. Pada ∆ ABC di atas AB,
BC dab AC disebut sisi segitiga ABC. Ketiga sisi segitiga
saling berpotongan dan membentuk sudut. Titik A, B, C
disebut titik sudut.
sudut A atau sudut ABC,
sudut B atau sudut ABC dan sudut C atau sudut ABC
Segitiga
merupakan bangun geometri yang dibentuk oleh 3 buah garis saling bertemu dan
membentuk 3 buah titik sudut. Segitiga adalah suatu bangun datar yang
jumlah sudutnya 1800 dan dibentuk dengan cara menghubungkan tiga buah titik
yang tidak segaris dalam satu bidang. Bangun segitiga dilambangkan dengan
∆. Jumlah sudut pada segitiga besarnya 180⁰. Sebuah segitiga memiliki tiga
titik sudut, tiga sisi dan tiga sudut.
Segtiga
ialah sebuah bangun terjadi kalau tiga buah titik yang tidak terletak pada
sebuah garis lurus dihubungkan-hubungkan. Segitiga adalah bangun
datar tiga dimensi yang dibuat dari tiga buah sisi yang berupa garis lurus dan
tiga sudut. Matematikawan Euclid yang hidup sekitar tahun 300 SM
menemukan bahwa jumlah ketiga sudut di suatu segi tiga adalah 180 derajat. Hal
ini memungkinkan kita menghitung besarnya salah satu sudut bila dua sudut
lainnya sudah diketahui.
2.5.2
Garis-garis
Istimewa dan Jenis-jenis Segitiga
2.5.2.1
Garis Istimewa dalam Segitiga
1.
Garis tinggi = garis tegak lurus
yang ditarik dari sebuah titik sudut kesisi depannya.
Ta ialah garis
tinggi dari titik sudut A kesisi a.
2. Garis bagi (bisektris) = garis yang
membagi dua sama besar sebuah sudut segitiga daialah garis
bagi sudut A. Garis sudut luar sebuah segitiga
dinamakan garis bagi luar. Sebagai lawan dari garis bagi luar ini,
garis bagi sudut dalam dinamakan juga garis bagi dalam.
3. Garis berat (median) = garis dari
sebuah titik sudut ketitik tengah sisi depannya. maialah garis berat
dari titik sudut A ke sisi a.
Huruf huruf kecil a,b,dan c letaknya
tidak setinggi huruf huruf t , d ,dan m
Huruf huruf itu letaknya lebih
rendah
Huruf huruf itu
dinamakan orang penunjuk umpama ta , da, mc.
4. Garis sumbu = Garis tegak lurus
ditengah , ialah suatub garis yang membagi dua sama panjang sebuah sisi dan
tegak lurus kepada sisi itu.
Garis yang
kedua dan yang terakhir dapat juga dibentuk, meskipun segitiganya tidak ada.
2.5.2.2 Jenis-jenis Segitiga
Segitiga dibedakan atas 2 bagian,
yaitu:
1. Menurut panjang sisinya:
a. Segitiga sama sisi
![]() |
Mempunyai
3 sisi sama panjang. Mempunyai 3 sudut sama besar yaitu 60⁰. Mempunyai 3
simetri lipat. Mempunyai 3 simetri putar.
b. Segitiga
Samakaki
![]() |
Mempunyai 2 sisi yang berhadapan sama panjang. Mempunyai 1
simetri lipat. Mempunyai 1 simetri putar. Dalam segitiga samakaki sama besar.
Kalau 2 buah sudut sebuah segitiga sama, maka segitiga itu samakaki. Dalam
segitiga samakaki garis tinggi, garis berat dan garis bagi dari puncak
berimpitan. Garis penghubung puncak dua buah segitiga samakaki, yang garis
dasarnya berimpit sluruhnya, berdiri tegak lurus kepada garis dasar, membagi
dua sama panjang garis dasar itu dan membagi dua sama besar pula kedua sudut puncak
kedua segitiga.
c. Segitiga sembarang

Mempunyai
3 sisi yang tidak sama panjang. Tidak memiliki simetri lipat. Tidak memiliki
simetri putar.
2.
Menurut besar sudutnya:
a. Segitiga lancip
![]() |
Segitiga
yang besar semua sudut < 90o.
b. Segitiga tumpul
![]() |
Salah satu sudutnya adalah sudut siku-siku
yaitu > 90⁰.
c. Segitiga
Siku-Siku
Segitiga
Siku-Siku Adalah segitiga yang besar salah satu sudutnya sama
dengan 90o. Sisi di depan sudut 90o disebut hipotenusa atau
sisi miring.
Mempunyai 2
sisi yang saling tegak lurus. Mempunyai 1 sisi miring. Salah satu sudutnya
adalah sudut siku-siku yaitu 90⁰. Tidak mempunyai simetri lipat dan putar. Dalam segitiga siku-siku yang
sebuah sudutnya 30o, panjang sisi siku-siku dihadapan
sudut itu sama dengan setengah sisi miring. Kalau dalam sebuah segitiga
siku-siku sebuah dari pada sisi siku-sikunya sama panjangnya dengan setengah
sisi miring, maka sudut yang dihadapan sisi siku-siku itu 30o.
Kalau dalam
sebuah segitiga yang salah satu daripada sudutnya 30o, sebuah
sisinya setengah daripada sisi yang lain, maka sudut dihadapan sisi yang akhir
sudut suku-siku. Dalam segitiga siku-siku panjang sisi berat dari sudut
siku-siku setengah daripada sisi miring. Kalau panjang sebuah garis berat ke
sebuah sisi, setngah daripada sisi itu, maka sisi itu ialah sisi miring sebuah
segitiga siku-siku.
Rumus Keliling Segitiga:
Keliling = panjang sisi 1 + panjang
sisi 2 + panjang sisi 3
Rumus Luas Segitiga:
Luas =
Teorema Heron
![]() |
Teorema
Heron biasanya digunakan untuk mencari luas dari suatu segitiga sembarang. a, b
dan c adalah ketiga sisi segitiga.
![]() |
||
1.Panjang sisi a, terletak diseberang sudut A.
2. Panjang sisi b, terletak diseberang sudut B.
3. Panjang sisi c, terletak diseberang sudut C.
Dalil Pythagoras
![]() |
Segitiga
siku-siku
Keterangan:
a : sisi datar (Panjang dari sisi
terpanjang/hipotenusa, selalu terletak diseberang sudut siku-sikunya.)
b : sisi tegak
c : sisi miring
Jika ada
tiga buah bilangan a, b dan c yang memenuhi persamaan di atas, maka ketiga
bilangan tersebut disebut sebagai Triple Pythagoras. Triple Pythagoras
tersebut dapat dibangun menggunakan rumus berikut dengan memasukkan sebuah
nilai n dengan n adalah bilangan bulat positif.
2.6.1
Sudut
Sudut adalah
bangun ruang yang terjadi jika dua sinar garis memiliki pangkal yang sama.
Sinar garis tersebut disebut kaki sudut. Pangkal sinar disebut titik
sudut.Pengukuran sudut adalah membandingkan sudut yang akan diukur dengan sudut
pembanding. Sebuah sudut dapat ditempatkan pada sudut yang lain untuk
memperoleh bahwa yang pertama lebih kecil, sama atau lebih besar dari sudut
yang kedua.
Sudut dalam geometri adalah besaran rotasi suatu ruas garis dari satu titik pangkalnya ke posisi yang
lain. Selain itu, dalam bangun dua dimensi yang beraturan, sudut dapat pula
diartikan sebagai ruang antara dua buah ruas garis lurus yang saling berpotongan. Besar sudut pada lingkaran 360°. Besar sudut pada segitiga siku-siku 180°. Besar sudut pada
persegi/segi empat 360°. Untuk mengukur sudut dapat digunakan busur derajat.
Tiap sudut segitiga sama sisi masing masing 60°, karena semua sudutnya sama
besar maka 180° :3 = 60°. Sedangkan tiap sudut persegi 90° karena semua
sudutnya juga sama besar maka 360° : 4 = 90°
2.6.2 Jenis-Jenis Sudut Segitiga
a. Sudut lancip
Sudut lancip Adalah sudut yang besarnya antara 0 derajat sampai 90
derajat. Sudut yang pasti ada di dalam segitiga. Di dalam segitiga pasti ada
dua sudut yang merupakan sudut lancip. Karena suatu segitiga pasti jumlah
sudutnya yaitu 180 derajat.
b. Sudut siku – siku
Sudut yang besarnya 90
derajat. Untuk membuat sudut siku-siku, bisa kita lakukan langkah-langkah
berikut. Pertama ambil sebuah kertas. Sebarang kertas yang penting mudah untuk
dilipat. Kemudian lipat kertas itu sekali lipat. Sehingga terbentuk sebuah
garis di lipatan tersebut. setelah melipat sekali. Lipat lagi kertas tersebut
dengan cara lipatan yang lurus tadi berhimpitan. Maka jadilah sudut siku-siku
yang besanya 90 derajat.
c. Sudut tumpul
Sudut besarnya lebih dari 90° tetapi kurang dari 180°.
Sudut A adalah sudut tumpul (90° ∠ A ∠ 180°)
d. Sudut azimuth
Sudut
azimuth adalah sudut pada suatu titik yang menyatakan suatu arah terhadap arah
utara yang diukur menurut arah putaran jarum jam. Sudut azimuth biasa digunakan
dalam menentukan arah. Besar sudut biasa dinyatakan dengan tiga angka yang
dimulai dari 000 – 360. Contoh
- A terletak pada jurusan 065° dari B
- B terletak pada jurusan 135° dari A
e. Sudut dalam berseberangan
Garis m sejajar garis p, ∠α dan ∠β adalah sudut- sudut dalam
berseberangan (sudut – sudut dalam berseberangan sama besar)
f. Sudut luar berseberangan
Garis m sejajar garis p. sudut – sudut berseberangan
adalah : ∠1 dan ∠3 (besar sudut sama besar). ∠2 dan ∠4 (besar sudut sama besar).
g. Sudut bertolak belakang
Dua garis yang berpotongan terbentuk sudut – sudut
yang bertolak belakang
∠1 bertolak
belakang dengan ∠3, ∠2 bertolak belakang dengan ∠4. Sudut – sudut yang bertolak
belakang sama besar.
h. Sudut depresi
Sudut pada suatu titik yang diukur terhadap garis
horizontal kesuatu arah dan berada dibawah garis horizontal.
∠α adalah
sudut depresi dari A ke B.
i. Sudut elevasi (sudut ketinggian)
Sudut pada suatu titik yang diukur terhadap garis
horizontal kesuatu arah dan berada diatas garis horizontal
∠α adalah
sudut elevasi dari A ke B.
j. Sudut lurus (sudut yang besarnya 180°)
k. Sudut reflek (sudut yang besarnya 180°∠α∠360°)
BAB III
PENUTUP
3.1
SIMPULAN
Berdasarkan materi di atas dapat disimpulkan
:
1.
Geometri
Euklid merupakan sistem aksiomatik, dimana semua teorema ("pernyataan yang benar") diturunkan dari bilangan aksioma yang terbatas, artinya hasil-hasil penting / teotema-teorema
tersebut merupakan akibat dari postulat sejajar.
2.
Peran postulat sejajar Euclid
adalah sebagai sumber untuk banyak hasil yang sangat penting. Tanpa postulat
tersebut (atau ekivalennya), kita tidak akan memiliki teori luas yang sudah
lama dikenal, teori kesamaan, dan teori Pythagoras yang terkenal. Jadi postulat
sejajar Euclid akan lebih berperan apabila dideduksi dengan postulat lainnya
atau digantikan dengan postulat lainnya yang lebih pasti.
3.
Kesebangunan yaitu
bangun-bangun yang memiliki bentuk yang sama dengan ukuran yang sama atau
berbeda.
4.
Pengertian Kongruen
Bangun-bangun geometri
dikatakan kongruen (sama sebangun) jika dan hanya jika bangun-bangun itu
mempunyai ukuran dan bentuk yang sama.
3.2 SARAN
Adapun saran yang dapat dikemukakan yaitu
bagi para pembaca dapat menelaah lebih jauh lagi tentang geometri euclide agar
dapat diketahui pengetahuan mendalam tentang teori tersebut dan dapat
menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
4.
DAFTAR ISI
Adinawan,
M. Cholik dan Sugijono. 2005. Matematika untuk SMP/MTs Kelas IX.
Jakarta: Erlangga.
https://ms.wikipedia.org/wiki/Geometri_Euclid diunduh pada 10
Agustus 2015
http://litfia-kesebangunan-kongruensi-segi3.blogspot.com/2014/03/makalah
kesebangunan-segitiga-dan.html di unduh pada
tanggal 10 Agustus 2015
Raharja,
Basuki. 2010. Kesebangunan Segitiga. diunduh melalui http://basukiraharja.wordpress.com/2010/09/04/kesebangunan-segitiga/ pada
tanggal 10 Agustus 2015.















Tidak ada komentar:
Posting Komentar