BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Teori Kombinatorial merupakan salah satu
pokok bahasan Matematika Diskrit yang telah banyak dikembangkan dan
diaplikasikan dalam berbagai bidang. Dalam perkembangan Matematika, dapat
dilihat bahwa kajian kombinatorial sangat menarik bagi sebagian orang. Salah
satu contoh permasalahan yang dapat diselesaikan dengan kombinatorial adalah
menghitung banyaknya kombinasi angka nomor polisi mobil, di mana nomor polisi
terdiri atas lima angka dan diikuti dua huruf, serta angka pertama bukan nol.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
cara menyelesaikan permasalahan peluang suatu kejadian?
2.
Apa
manfaat teori kombinatorial dalam kehidupan sehari-hari?
3.
Bagaimana
cara pengaplikasian teori kombinatorial?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui cara menyelesaikan masalah tentang peluang sebuah kejadian.
2.
Untuk
mengetahui manfaat teori kombinatorial dalam kehidupan sehari-hari.
3.
Untuk
mengetahui cara pengaplikasian teori kombinatorial.
BAB
II
PEMBAHASAN
Cara paling sederhana untuk menyelesaikan
persoalan sejenis adalah dengan mengenumerasi semua kemungkinan jawabannya.
Mengenumerasi berarti mencacah atau menghitung satu per satu setiap kemungkinan
jawaban. Akan tetapi enumerasi masih mungkin dilakukan jika jumlah objek
sedikit, sedangkan untuk persoalan di atas, cara enumerasi jelas tidak efisien.
Misalnya untuk menjawab persoalan di atas, apabila kita melakukan enumerasi,
maka kemungkinan jawabannya adalah sebagai berikut:
12345AB
12345AC
12345BC
…
34567MT
34567ML
…
dan seterusnya…
12345AC
12345BC
…
34567MT
34567ML
…
dan seterusnya…
Sangatlah mungkin bahwa kita sudah lelah
sebelum proses enumerasi selesai dilakukan. Di sinilah peran kombinatorial,
yang merupakan “seni berhitung”, menyelesaikan persoalan semacam ini dengan
cepat. Demikian juga dalam permainan POKER.
Peluang seorang pemain untuk mendapatkan kombinasi lima kartu yang ada dapat
dihitung dengan cepat dengan menggunakan kombinatorial. Pada dasarnya, Poker
adalah permainan berdasarkan keberuntungan. Oleh karena itu, pemain yang
mendapat kartu yang paling sulit didapatkan (artinya, memiliki peluang
kemunculan sangat kecil) adalah pemenangnya.
Dengan demikian, urutan bagus atau tidaknya
suatu kartu dapat dihitung secara matematis dengan menggunakan kombinatorial
dan teori peluang. Teori Kombinatorial
Kombinatorial adalah cabang matematika untuk menghitung jumlah penyusunan objek-objek tanpa harus mengenumerasi semua kemungkinan susunannya.
Kombinatorial adalah cabang matematika untuk menghitung jumlah penyusunan objek-objek tanpa harus mengenumerasi semua kemungkinan susunannya.
Kaidah Dasar Menghitung
1.
Kaidah
Perkalian (rule of product)
Misalkan percobaan 1 mempunyai p hasil
percobaan, dan percobaan 2 mempunyai q hasil, maka bila percobaan 1 dan
percobaan 2 dilakukan akan terdapat p × q hasil percobaan.
2.
Kaidah
Penjumlahan (rule of sum)
Misalkan percobaan 1 mempunyai p hasil
percobaan, dan percobaan 2 mempunyai q hasil, maka bila percobaan 1 atau
percobaan 2 dilakukan (hanya salah satu percobaan saja yang dilakukan) akan
terdapat p + q hasil percobaan.
Banyaknya anggota
himpunan gabungan antara himpunan A dan himpunanB merupakan
jumlah banyaknya anggota dalam himpunan tersebut dikurangi banyaknya anggota di
dalam irisannya. Dengan demikian
Contoh :
Setiap byte disusun
oleh 8-bit. Berapa banyak jumlah byte yang dimulai dengan ‘11’
atau berakhir dengan ‘11’?
Penyelesaian:
Misalkan
A = himpunan byte yang
dimulai dengan ‘11’,
B = himpunan byte yang
diakhiri dengan ‘11’
A ∩ B =
himpunan byte yang berawal dan berakhir dengan ‘11’
maka
A È B =
himpunan byte yang berawal dengan ‘11’ atau berakhir dengan
‘11’
│A│ =
26 = 64, │B│ = 26 =
64, │A ∩ B│ = 24 =
16.
maka
│A È B│ = │A│ + │B│ – │A ∩
B│
= 26 + 26 – 16 = 64 + 64 – 16 =
112.
Jika (k + 1) atau lebih obyek ditempatkan ke
dalam k kotak, maka terdapat paling sedikit satu kotak yang memuat dua atau
lebih obyek tersebut.
Contoh 1: Jika terdapat 11 pemain dalam sebuah
tim sepakbola yang menang dengan angka 12-0, maka haruslah terdapat paling
sedikit satu pemain dalam tim yang membuat gol paling sedikit dua kali.
Contoh 2: Jika anda menghadiri 6 kuliah dalam
selang waktu Senin sampai Jumat, maka haruslah terdapat paling sedikit satu
hari ketika anda menghadiri paling sedikit dua kelas.
The Generalized Pigeonhole Principle Theorem
(Generalisasi Prinsip Sarang Merpati)
Jika N obyek ditempatkan ke dalam k kotak,
maka terdapat paling sedikit satu kotak yang memuat
sedikitnya N/k obyek.
Bukti?
Contoh 1: Di dalam kelas dengan 60 mahasiswa,
terdapat paling sedikit 12 mahasiswa akan mendapat nilai yang sama (A, B, C, D,
atau E).
Contoh 2: Di dalam
kelas dengan 61 mahasiswa, paling sedikit 13 mahasiswa akan memperoleh nilai
yang sama
A. Permutasi
Permutasi adalah jumlah urutan yang berbeda
dari pengaturan objek-objek. Permutasi merupakan bentuk khusus aplikasi kaidah
perkalian. Misalkan jumlah objek adalah n, maka urutan pertama dipilih dari n
objek, urutan kedua dipilih dari (n – 1) objek, urutan kedua dipilih dari (n –
2) objek, … urutan terakhir dipilih dari 1 objek yang tersisa.
Menurut kaidah perkalian, permutasi dari n
objek adalah n(n – 1)(n – 2) … (2)(1) = n! Rumus permutasi-r (jumlah susunan
berbeda dari pemilihan r objek yang diambil dari n objek), dilambangkan dengan
P(n,r):
B. Kombinasi
Bentuk khusus dari permutasi adalah
kombinasi. Jika pada permutasi urutan kemunculan diperhitungkan, maka pada
kombinasi, urutan kemunculan diabaikan. Rumus kombinasi-r (jumlah pemilihan
yang tidak terurut r elemen yang diambil dari n buah elemen), dilambangkan
dengan C(n,r) atau ( n r ) .
C. Interpretasi
Kombinasi
1.
C(n, r)
= banyaknya himpunan bagian yang terdiri atas r elemen yang dapat dibentuk dari
himpunan dengan n elemen.
2.
C(n, r)
= cara memilih r buah elemen dari n elemen yang ada, tetapi urutan elemen di
dalam susunan hasil pemilihan tidak penting.
D. Permutasi
dan Kombinasi Bentuk Umum
Misalkan terdapat n buah bola yang tidak
seluruhnya berbeda warna (ada beberapa bola berwarna sama – indistinguishable).
n1 bola di antaranya berwarna 1, n2 bola di
antaranya berwarna 2,… nk bola di antaranya berwarna k, dan n1 + n2 + … + nk =
n.
Berapa jumlah cara pengaturan n buah bola ke
dalam kotak-kotak tersebut (tiap kotak maksimal 1 buah bola)?
Penyelesaian:
Jika n buah bola itu kita anggap berbeda semuanya, maka jumlah cara pengaturan n buah bola ke dalam n buah kotak adalah P(n, n) = n! Dari pengaturan n buah bola itu, Terdapat n1! cara memasukkan bola berwarna 1, terdapat n2! cara memasukkan bola berwarna 2,… terdapat nk! cara memasukkan bola berwarna k.
Jika n buah bola itu kita anggap berbeda semuanya, maka jumlah cara pengaturan n buah bola ke dalam n buah kotak adalah P(n, n) = n! Dari pengaturan n buah bola itu, Terdapat n1! cara memasukkan bola berwarna 1, terdapat n2! cara memasukkan bola berwarna 2,… terdapat nk! cara memasukkan bola berwarna k.
Permutasi n buah bola yang mana n1 di
antaranya berwarna 1, n2 bola berwarna 2, …, nk bola berwarna k adalah
Terdapat C(n, n1) cara untuk menempatkan n1
buah bola yang berwarna 1,
terdapat C(n – n1, n2) cara untuk menempatkan
n1buah bola yang berwarna 2,
terdapat C(n – n1 – n2, n3) cara untuk
menempatkan n1 buah bola yang berwarna 3, …
terdapat C(n – n1 – n2 – … – nk-1, nk) cara untuk menempatkan nk buah bola yang berwarna k.
terdapat C(n – n1 – n2 – … – nk-1, nk) cara untuk menempatkan nk buah bola yang berwarna k.
Jumlah cara pengaturan seluruh bola ke dalam
kotak adalah
E.
Kombinasi dengan Pengulangan
Misalkan terdapat r buah bola yang semua
warnanya sama dan terdapat n buah kotak, serta ketentuan sebagai berikut:
1.
Masing-masing
kotak hanya boleh diisi paling banyak satu buah bola.
Jumlah cara memasukkan bola adalah C(n, r).
Jumlah cara memasukkan bola adalah C(n, r).
2.
Masing-masing
kotak boleh diisi lebih dari satu buah bola (tidak ada pembatasan jumlah bola).
Jumlah cara memasukkan bola adalah
F.
Teori Peluang
Kombinatorial dan teori peluang (probability)
berkaitan sangat erat. Teori peluang banyak menggunakan konsep-konsep dalam
kombinatorial. Sebenarnya kedua bidang ini lahir dari arena judi (gambling
games) – salah satu kasusnya adalah menghitung peluang munculnya nomor lotre
tertentu. Meskipun demikian, aplikasi kombinatorial dan teori peluang saat ini
telah meluas ke berbagai bidang ilmu lain maupun dalam kehidupan nyata seperti
ilmu statistika, fisika, ekonomi, biologi, dan berbagai bidang ilmu lainnya.
G. Terminologi
Dasar Ruang
1. Contoh
(sample space)
Ruang Contoh dari suatu percobaan adalah
himpunan semua kemungkinan hasil percobaan yang bersangkutan.
2. Titik
Contoh (sample point)
Titik Contoh adalah setiap hasil percobaan di
dalam ruang contoh. Hasil-hasil percobaan tersebut bersifat saling terpisah
(mutually exclusive) karena dari seluruh ruang contoh, hanya satu titik contoh
yang muncul.
Misalnya pada percobaan melempar dadu, hasil
percobaan yang muncul hanya salah satu dari 6 muka dadu, tidak mungkin muncul
dua muka atau lebih, atau tidak mungkin salah satu dari enam muka dadu tidak
ada yang muncul.
3. Ruang
Contoh Diskrit (discrete sample space)
Ruang Contoh Diskrit adalah ruang contoh yang
jumlah anggotanya terbatas. Misalkan ruang contoh dilambangkan dengan S dan
titik-titik contohnya dilambangkan dengan x1, x2, …, maka S = { x1, x2, …, xi,
… } Menyatakan ruang contoh S yang terdiri atas titik-titik contoh x1, x2, …,
xi, dan seterusnya.
4. Peluang
Diskrit
Peluang Diskrit adalah peluang terjadinya
sebuah titik contoh, dan disimbolkan dengan p(xi).
Sifat-sifat peluang diskrit adalah sebagai
berikut:
a) 0 ≤ p(xi) ≤ 1, yaitu nilai peluang tidak
negatif dan selalu lebih kecil atau sama dengan
5. Kejadian
(event)
Kejadian –disimbolkan dengan E– adalah
himpunan bagian dari ruang contoh. Misalnya pada percobaan melempar dadu,
kejadian munculnya angka ganjil adalah E = {1,3,5}, kejadian munculnya angka 1
adalah E = {1}. Kejadian yang hanya mengandung satu titik contoh disebut
kejadian sederhana (simple event), sedangkan kejadian yang mengandung lebih
dari satu titik contoh disebut kejadian majemuk (compound event).
H. Peluang
Kejadian
Peluang Kejadian E di dalam ruang contoh S
dapat diartikan sebagai jumlah peluang semua titik contoh di dalam E. Jadi,
kita dapat menuliskan bahwa

Contoh:
1. Dua buah dadu dilemparkan. Berapa peluang munculnya angka-angka dadu yang jumlahnya sama dengan 8?
Penyelesaian:
Jumlah hasil percobaan yang muncul adalah (dengan menggunakan kaidah perkalian)
6 × 6 = 36
Jumlah hasil percobaan yang muncul adalah (dengan menggunakan kaidah perkalian)
6 × 6 = 36
Ruang contohnya adalah S = {(1,1), (1,2), …,
(1,6), (2,1), (2,2), …, (2,6), …, (6,1), (6,2), …, (6,6)}, semuanya ada 36
elemen. Kejadian munculnya jumlah angka dadu sama dengan 8 adalah E = {(2,6),
(3,5), (4,4), (5,3), (6,2)}, ada 5 elemen. Peluang munculnya jumlah angka sama
dengan 8 adalah 5/36.
I.
Logika Permainan Sudoku
Sudoku merupakan permainan angka yang berasal
dari Jepang. Permainan ini menggunakan kotak 9x9 yang di dalamnya sudah
terdapat beberapa angka petunjuk, dan kita diminta untuk melengkapi angka-angka
tersebut dengan aturan, tidak ada angka yang sama pada satu baris, satu kolom,
atau satu kotak bagian 3x3 yang ditandai garis tebal. Karena semua aturan itu,
dalam permainan Sudoku pasti kemunculan setiap angka tepat 9 kali, dari angka
yang sudah ada dari awal permainan ditambah dengan angka yang dimasukkan pemain.
Permainan ini dapat dilakukan sendirian ataupun bekerja sama dengan orang lain.

Permainan ini tergolong mudah untuk dimengerti semua umur. Semakin cepat anda dapat menyelesaikan suatu permainan Sudoku tanpa trial and error, berarti semakin baik kemampuan logika anda. Tentunya itu juga tergantung tingkat kesulitan permainan Sudoku yang dimainkan, karena kombinasi dari angka pada soal Sudoku menimbulkan kombinasi penyelesaian tersendiri. Dalam makalah ini logika untuk bermain Sudoku akan dibahas. Walaupun ada banyak cara yang dibahas di makalah ini, bukan berarti metode penyelesaian Sudoku hanya itu. Penyelesaian Sudoku masih sangat biasa dikembangkan.
1. Logika
Logika merupakan dasar dari semua proses
penalaran. Dengan logika, kita tahu apa yang benar, apa yang salah, dan apa
yang masih tergantung pada variabel lain. Tanpa logika, kita tidak dapat
melakukan proses problem solving, oleh karena itu logika merupakan kemampuan
yang sangat dasar dalam kehidupan terutama bagi para saintis dan insinyur yang
memerlukan proses berpikir sistematis. Sudoku sebagai permainan yang memerlukan
pemikiran sistematis tentunya membutuhkan logika. Oleh karena itu, pada makalah
ini akan dibahas logika bermain Sudoku yang sering kali tidak terpikirkan orang
banyak.
2. Metode
Notasi
Untuk mempermudah penjelasan pada makalah
ini, kita membutuhkan notasi dan catatan kecil. Catatan kecil yang dimaksudkan
adalah penulisan kemungkinan angka pada suatu kotak. Oleh karena itu, kita akan
melihat terkadang terdapat lebih dari satu angka pada suatu kotak di gambar contoh.
Itu akan mempermudah kita untuk memperkirakan apa isi suatu kotak.
Untuk notasi, kita menggunakan notasi seperti
berikut.
U :
himpunan universe, {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9}.
Kij :
menunjukkan kotak pada baris i, kolom j.
Pij :
menunjukkan himpunan kemungkinan angka pada baris i, kolom j.
Bi :
menunjukkan himpunan angka yang telah muncul pada baris i.
BiX :
menunjukkan himpunan kotak pada baris i yang mungkin diisi oleh angka X.
Klj :
menunjukkan himpunan angka yang telah muncul pada kolom j.
KljX :
menunjukkan himpunan kotak pada kolom j yang mungkin diisi oleh angka X.
Ktx :
menunjukkan himpunan angka yang telah muncul pada kotak x.
Nama dari setiap kotak adalah sebagai
berikut.

KtxX : menunjukkan himpunan kotak pada kotak x yang mungkin diisi oleh angka X.
Cara menyelesaikan sudoku
Himpunan kemungkinan angka beranggota
tunggal. Dalam Sudoku, setiap satu kotak kecil hanya dapat diisi oleh satu
angka. Kemungkinan angka yang dapat ditetapkan pada satu kotak ditentukan oleh
angka-angka yang sudah muncul dari sebelumnya pada satu baris yang sama, kolom
yang sama, dan subkotak yang sama.
Semakin variatif angka di sekitarnya, semakin
sedikit kemungkinan angka pada kotak tersebut. Penentuan itu dilakukan dengan
mencari selisih himpunan kemungkinan angka pada satu kotak dengan himpunan
angka-angka yang sudah muncul pada satu baris yang sama, kolom yang sama, dan
subkotak yang sama. Karena pada setiap kotak kecil hanya boleh ada tepat satu
angka, maka dapat dipastikan jika kemungkinan angka pada kotak tersebut hanya
satu, maka angka satu-satunya anggota himpunan itu lah yang tepat untuk
diisikan pada kotak tersebut.
3.
Dua himpunan beranggota sama.
Untuk menjelaskan masalah himpunan-himpunan
beranggota sama dengan mudah, pertama-tama kita akan membahas kasus dengan
hanya dua himpunan.
Jika kita lihat pada gambar di atas, sesuai
catatan kecil berwarna biru kita dapat mengetahui bahwa P47 dan P68 sama-sama
{2, 3}, sama-sama hanya berisi dua kemungkinan (perhitungannya akan dijelaskan
pada bagian kemungkinan-kemungkinan tersembunyi). Istimewanya kesamaan himpunan
ini adalah, jika P47 dimasukkan angka 2 atau 3, maka P68 menjadi himpunan
beranggota tunggal sehingga bisa langsung diisi. Begitu juga jika P68 diisi,
maka P47 menjadi himpunan beranggota tunggal. Dengan ini, walau kita tidak
dapat langsung menentukan isi dari P47 dan P68, kita dapat menyimpulkan bahwa
angka 2 dan 3 tidak mungkin ditempatkan di kotak lain pada KtA.
Perlu diperhatikan, karena kita hanya
memperkirakan angka-angka apa saja yang mengisi dua buah kotak, maka teorema
ini hanya berlaku untuk dua kemungkinan angka. Jika ada dua kotak yang memiliki
kemungkinan angka sama tapi lebih dari dua kemungkinan angka, teorema ini tidak
dapat digunakan. Selain itu, kedua kotak berhimpunan sama itu harus terletak
pada subkotak, baris, atau kolom yang sama. Himpunan kemungkinan yang terkunci
mengembangkan materi dari bagian dua himpunan yang sama, sebenarnya terdapat
teorema yang lebih luas dari teorema yang dinyatakan sebelumnya. Jika terdapat
beberapa kotak pada subkotak, baris, atau kolom yang sama yang memiliki
kemungkinan angka yang ketika digabung jumlah kemungkinannya sama dengan jumlah
kotak yang dibicarakan maka angka-angka tersebut pasti ada pada kotak tersebut.
Jika jumlah kemungkinan angka hasil penggabungan kurang dari jumlah kotak yang
dibicarakan, maka pasti terjadi kesalahan dalam pengisian Sudoku.
Hal ini mempermudah penentuan isi dari kotak
yang lain walau kita tidak bisa langsung mengisi kotak-kotak tersebut. Jika kotak-kotak
itu muncul pada subkotak yang sama, maka hal ini mempermudah penentuan isi
kotak kosong lain pada subkotak tersebut. Jika kotak-kotak itu muncul pada
baris yang sama, maka hal ini mempermudah penentuan isi kotak kosong lain pada
baris tersebut. Begitu juga jika kotak-kotak itu muncul pada kolom yang sama,
maka hal ini mempermudah penentuan isi kotak kosong lain pada kolom tersebut.
Untuk ilustrasi kita dapat melihat contoh berikut.

Kita dapat melihat catatan kecil berwarna biru pada K49, K59, dan K69 yang semua kotak itu terdapat pada subkotak yang sama dan kolom yang sama.
Karena gabungan dari P49, P59, dan P69 menghasilkan himpunan kemungkinan angka yang jumlahnya sama dengan jumlah kotak yang dibicarakan, maka angka 6, 7, dan 8 pada kolom 9 dan subkotak F hanya dapat mengisi. Ini mempermudah penentuan di subkotak F dan kolom 9 sekaligus.
Teorema ini sangat berguna dalam memainkan
Sudoku dengan level kesulitan tinggi. Walaupun begitu, teorema ini hanya
efektif untuk dua dan tiga kotak. Selebihnya jarang muncul. Himpunan posisi
beranggota tunggal.
Yang akan kita bicarakan mirip dengan yang
dinyatakan di bagian himpunan beranggota tunggal. Bedanya, di bagian ini
himpunan yang beranggota tunggal adalah himpunan posisi. Misal pada subkotak
belum terdapat angka 9 dan hanya ada satu kotak yang mungkin diisi angka 9.
Kotak tersebut otomatis harus diisi angka 9 karena subkotak tersebut harus
memiliki angka 9 di dalamnya.
Karena kita melihat pada K91 dan K48 terdapat angka 1, maka tentu saja KtD1 menjadi tereduksi

Karena sekarang hanya berisi , maka angka 1 sudah pasti harus ditempatkan di. Hal ini tidak selalu jelas terlihat pada Sudoku dengan level sangat tinggi. Terkadang kita perlu menguraikan satu per satu kemungkinan angka pada suatu baris, kolom, atau subkotak untuk menemukannya.
Kemungkinan-kemungkinan tersembunyi. Inti dari bagian ini seperti pada bagian himpunan posisi beranggota tunggal. Bedanya, di bagian ini kita membicarakan lebih dari satu himpunan, himpunannya berisi lebih dari satu dengan jumlah yang tepat sama dengan jumlah himpunan yang dibicarakan, dan isi himpunannya sama. Tentu saja himpunan-himpunan tersebut harus berletak di baris, kolom, atau subkotak yang sama.

Pada gambar di atas kemungkinan angka pada tiap kotak di KtF telah dihitung dan ditulis dengan catatan kecil biru. Jika diperhatikan KtF2 dan KtF3 sama dengan {K47, K68}. Oleh karena itu, P47 dan P68 dapat disederhanakan menjadi {2, 3}. Untuk perhitungan yang lebih sederhana, kita dapat melihat sekilas bahwa angka 2 dan 3 pada kolom 9 menyebabkan kolom 9 di subkotak F tidak bisa diisi dengan angka 2 dan 3. Sisa kotak yang dapat diisi oleh 2 dan 3 di subkotak F ada 2. Otomatis kotak-kotak tersebut hanya bisa diisi angka 3 dan 2 karena kedua angka tersebut harus mendapatkan tempat. Berikut ini persamaannya.
Perhatikan gambar di atas. Pada KtD dan KtE telah dibuat catatan tempat yang mungkin diisi dengan angka 8. Tempat-tempat tersebut memiliki satu kesamaan penting, yaitu, sama-sama hanya terletak di baris ke-5 dan ke-6, berbeda dengan KtF yang memberikan kemungkinan penempatan angka 8 di baris 4, 5, dan 6.
Logika untuk bagian ini, jika pada KtD angka
8 diletakkan pada baris ke-6, maka pada KtE angka 8 harus ditempatkan di baris
ke-5. Karena baris ke-6 dan ke-5 sudah memiliki angka 8, maka pada KtF harus
menempatkan angka 8 di baris ke-4.
Jika pada KtD angka 8 diletakkan pada baris
ke-5, maka pada KtE angka 8 harus ditempatkan di baris ke-6. Karena baris ke-6
dan ke-5 sudah memiliki angka 8, maka pada KtF harus menempatkan angka 8 di
baris ke-4. Pada logika yang berbeda yang dibahas di atas, kita mendapat hasil
yang sama, yaitu pada KtF angka 8 harus ditempatkan di baris ke-4, sehingga
satu-satunya kotak yang dapat diisi oleh angka 8 adalah K49.
4.
Pengiris transparan
Untuk dapat menyelesaikan Sudoku dengan baik,
kita harus dapat melihat pengaruh sesuatu yang baru kemungkinan dengan baik.
Kesalahan kebanyakan orang dalam mengerjakan Sudoku biasanya adalah hanya
memanfaatkan pengaruh dari data yang terlihat. Prinsip dari pengiris transparan
adalah jika KtxX hanya terdapat pada satu kolom atau baris yang sama, maka X
pada kolom atau baris tersebut hanya boleh ada pada subkotak x.
Dari gambar di atas dapat dilihat angka 5 di
subkotak F mengiris tempat-tempat yang mungkin diisi angka 5 di subkotak C.
Dari situ ternyata tinggal dua tempat yang dapat diisi, ditandai dengan catatan
kecil biru, dan itu sekolom. Karena subkotak C harus memiliki angka 5 dan mau
tidak mau angka 5 tersebut harus ditempatkan di kolom 8, maka di baris 8 di
subkotak I tidak dapat diisi angka 5.Dari gambar di atas dapat dilihat angka 5
di subkotak F mengiris tempat-tempat yang mungkin diisi angka 5 di subkotak C.
Dari situ ternyata tinggal dua tempat yang dapat diisi, ditandai dengan catatan
kecil biru, dan itu sekolom. Karena subkotak C harus memiliki angka 5 dan mau
tidak mau angka 5 tersebut harus ditempatkan di kolom 8, maka di baris 8 di
subkotak I tidak dapat diisi angka 5.
J.
Koefisien Binomial
(x + y)0 =
1
1
(x + y)1 = x + y
1 1
(x + y)2 = x2 +
2xy + y2
1
2 1
(x + y)3 = x3 +
3x2y + 3xy2 + y3
1 3
3 1
(x + y)4 = x4 +
4x3y + 6x2y2 +
4xy3 + y4
1 4
6 4 1
(x + y)5 = x5 +
5x4y + 10x3y2 +
10x2y3 + 5xy4 + y5
1
5 10 10
5 1
(x + y)n = C(n,
0) xn + C(n, 1) xn-1 y1 +
… + C(n, k) xn-k yk +
… +
C(n, n) yn = xn-k yk
Koefisien untuk xn-kyk adalah C(n, k).
Bilangan C(n, k) disebut koefisien
binomial.
Contoh. Jabarkan (3x - 2)3.
Penyelesaian:
Misalkan a = 3x dan b =
-2,
(a + b)3 = C(3,
0) a3 + C(3, 1) a2b1 + C(3,
2) a1b2 + C(3,
3) b3
= 1 (3x)3 + 3 (3x)2 (-2) + 3 (3x)
(-2)2 + 1 (-2)3
= 27 x3 – 54x2 + 36x –
8
Contoh. Tentukan suku keempat dari penjabaran perpangkatan (x - y)5.
Penyelesaian:
(x - y)5 =
(x + (-y))5.
Suku keempat adalah: C(5, 3) x5-3 (-y)3 =
-10x2y3.
Contoh. Buktikan bahwa .
Penyelesaian:
Dari persamaan (6.6), ambil x = y =
1, sehingga
Û (x + y)n = xn-k yk
Û (1 + 1)n = 1n-k 1k =
Û 2n =
BAB
III
SIMPULAN
A. Simpulan
Teori kombinatorial yang terlahir dari meja perjudian, memang
memiliki begitu banyak manfaat secara matematis pada kehidupan jaman sekarang.
Apabila kita kembalikan pada awal penemuannya, maka kita dapat mengaplikasikan
teori ini pada permainan blackjack, poker maupun sudoku yang merupakan
permainan yang terkenal dalam penerapan teori kombinatorial ini.
Dengan menggunakan perhitungan matematis ini, kita dapat
menerapkan perhitungan-perhitungan sederhana seperti yang terdapat pada
perhitungan dalam permainan yang telah kita bahas di atas. Dalam segala halnya,
kita harus dapat lebih berfikir scientific. Kita harus dapat mengandalkan ilmu
pengetahuan untuk dapat meramalkan kemungkinan yang akan terjadi di depan kita.
Inilah manfaat nyata teori kombinatorial dan peluang. Kita dapat memprediksi
kombinasi suatu kejadian yang akan sangat membantu kita dalam pengambilan
keputusan untuk langkah berikutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Munir, Rinaldi, Matematika Diskrit Edisi Ketiga. Bandung : Penerbit
Informatika, Palasari Bab 6 hal 225-277
http://genius.smpn1mgl.sch.id/file.php/1/ANIMASI/matematika/Teori%20Peluang/materi01.html , Diakses pada tanggal 10 November 2015,
pukul 19.46
WIB.
http://hasanahworld.wordpress.com/2008/06/21/sejarah-peluangdan-statistika/,
Diakses pada tanggal 10 November 2015, pukul 20.15 WIB.
http://www.informatika.org/~rinaldi/Matdis/Kombinatorial.doc,Diakses
pada 10 November 2015, pukul 20.21 WIB.
http://lecturer.eepisits.edu/~entin/Matematika%20Diskrit/MatDis09Peluang%20Diskrit.pdf,
Diakses pada tanggal 11 November 2015, pukul 21.00 WIB.
http://ovieciinduts.blogspot.co.id/2012/01/teori-kombinatorial.html?m=1, diakses pada tanggal 11 November 2015, pukul
21.30 WIB.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar